EKSPOSKALTIM, Sangatta - Industri pariwisata di Kutai Timur (Kutim) sangat elok. Namun tidak terekspos maksimal karena keberadaan infrastruktur yang kurang memadai.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim Syafrudin Pernyata harus rela menempuh panjangnya perjalanan darat dari ibukota Kaltim, Samarinda menuju Sangkulirang.
"Padahal dari Sangatta itu jelas hanya 125 kilometer, tapi bisa sampai 3-4 jam jarak tempuhnya ke Sangkulirang ini," jelas dia.
Jika dari ibukota Kutim, Sangatta, untuk menuju Kecamatan Sangkulirang memakan waktu 4-5 jam. Namun itu semua bergantung lagi pada kondisi cuaca.
Sebab, perlu diketahui lika-liku jalan di Sangkulirang didominasi jalan yang belum teraspal dengan kontur tanah yang bergelombang. Puluhan atau bahkan ratusan lubang jalan yang menganga lebar kerap ditemui. Jika hujan mengguyur otomatis panjang waktu perjalanan akan bertambah.
"Kedepannya kita pikirkan bagaimana caranya agar akses tidak hanya ke Sangkulirang tapi juga sampai Tanjung Mangkalihat sana bisa terbuka dengan baik, saya kira Bupati Kutim yang tak lain merupakan rekan saya ini sepemikiran dengan saya," ujar Syafrudin yang disambut riuh para audiens yang hadir.
Jika berkaca dengan daerah wisata lain seperti Bali, konektivitas antar daerah juga harus terbangun. "Bali itu sudah overload. Banyuwangi yang kini dipersiapkan untuk menampung para wisatawan dari Bali. Begitupun antara Berau dengan Kutai Timur. Maka dari itu sudah harus dari sekarang untuk dibangun sebuah konektivitas dengan pembenahan jalan," jelas Syarifudin.
Ya, saat ini potensi wisata di Kutim jauh tertinggal dibanding daerah tetangga, Berau. Itu karena promosi wisata yang dirasa masih kurang. Padahal jika dilihat pesona alam di Kutim tak kalah eksotis dibanding Pulau Sangalaki, Kakaban ataupun Maratua.
"Yang kalah hanya di Kutim hanya tidak memiliki ubur-ubur yang tidak menyengat, tapi untuk gua peninggalan purbakala yang ada cap tangan manusia pra sejarah hanya ada di Kutim," jelas Safrudin.
Secara pribadi, ia juga berharap jika 5-10 tahun mendatang Kecamatan Sangkulirang bisa memiliki bandara sendiri. "90 persen wisatawan mancanegara maupun lokal itu menggunakan angkutan udara," jelas dia.
Dari sekian banyak potensi wisata alam di Kutim, pria berkumis ini memberi atensi khusus terhadap keberadaan Karst Sangkulirang yang disebut-sebut sebagai saksi sejarah peradaban manusia di Kalimantan.
Sekedar diketahui disana terdapat jejak-jejak peninggalan manusia purba, nenek moyang masyarakat Indonesia saat ini. Tempat ini juga diusulkan masuk dalam situs warisan dunia di urutan pertama nominasi peninggalan warisan alam dan cagar budaya dunia.
Tentang keberadaan kawasan karst yang memiliki luas hingga 1,8 juta hektare ditengah ancaman aktifitas industri pertambangan, Syafrudin angkat bicara. "Memang tidak semua yang akan masuk dalam kawasan yang dilindungi. Dengan mendukung menjadi salah satu objek wisata yang mendunia, saya rasa juga akan mendukung dari sisi pelestariannya," jelas Syafrudin.
Karst Sangkulirang-Mangkalihat, kata Syafrudin, akan ditarget masuk dalam 10 georpark atau taman dunia. Selama ini geopark sendiri dikenal menjadi konsep wisata baru yang tengah dikembangkan Kementerian Pariwisata.
Konsep geopark sendiri mengacu pada pengembangan kawasan yang memberikan pengaruh terhadap konservasi, edukasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. "Pokoknya kita akan dorong bagaimana caranya agar Karst Sangkulirang-Mangkalihat menjadi geopark yang mendunia," tambah dia.
Soal pembenahan jalan sendiri, Bupati Kutai Timur, Ismunandar, mengatakan akan memprioritaskan pembangunan jalur darat di Kecamatan Sandaran, yakni jalur Manubar - Tanjung Mangkalihat sepanjang 38 kilometer.
Pembangunan jalur akses darat ini sudah pernah direncanakan dan mulai dikerjakan oleh pemerintahan sebelumnya. Namun tertunda akibat permasalahan anggaran dan status lahan. "Masalah soal pembenahan jalan ini ditarget selesai tahun ini," jelas Ismu.
Sebelumnya, lokakarya pariwisata perdana digelar BPPD Kutai Timur dengan tajuk Reeksplorasi dan Promosi Potensi Destinasi Wisata Kutim Menuju Daya Saing Internasional di Sangkulirang pagi tadi, 20-21 Mei 2017 di Hotel Mesra Sangkulirang.

