PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

ISPU Samarinda Tembus 63, DLH: Kualitas Udara Bisa Memburuk Setiap Jam

Home Berita Ispu Samarinda Tembus 63, ...

Kualitas udara Samarinda berada pada kategori sedang, tetapi kondisinya belum aman untuk diabaikan. 


ISPU Samarinda Tembus 63, DLH: Kualitas Udara Bisa Memburuk Setiap Jam
Ilustrasi—Kabut asap terlihat di permukiman Samarinda Seberang di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ekspos/Sintya

EKSPOSKALTIM, Samarinda – Kualitas udara Samarinda mulai menunjukkan tekanan di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung.

Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Taman Segiri, Samarinda Ulu, tercatat 63 atau berada pada kategori sedang pada Jumat (4/9/2026) pukul 10.00 WITA.

Data pemantauan tersebut menunjukkan parameter PM2.5 menjadi penyumbang utama dengan indeks 63, sementara PM10 berada pada angka 39. Adapun parameter SO? tercatat 1, CO 0, O? 1, NO? 1 dan HC 0.

Meski kategori sedang masih dinilai dapat diterima terhadap kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan, kondisi tersebut menjadi perhatian karena kualitas udara sangat mungkin berubah mengikuti arah angin dan aktivitas kebakaran lahan.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sekaligus Kepala Pelaksana BPBD Samarinda, Suwarso, mengatakan kualitas udara Samarinda memang sempat berada pada kategori sedang.

“Secara kasat mata agak berkabut kadang kita merasa agak pedih di mata,” kata Suwarso (4/9).

Karena itu, pemerintah tidak menunggu kualitas udara masuk kategori buruk untuk meminta masyarakat mengambil langkah perlindungan jika berkegiatan di luar rumah terutama untuk kelompok rawan. Suwarso bahkan meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah jika tidak memiliki kepentingan mendesak.

“Kalau tidak penting tidak usah ke luar rumah,” tegasnya.

Asap Bisa Memburuk Mengikuti Arah Angin

Menurut Suwarso, angka kualitas udara tidak bersifat statis. Arah angin dan tingginya frekuensi kebakaran menjadi dua faktor yang dapat mengubah kondisi udara dari waktu ke waktu.

“Kalau di Samarinda atau daerah sekitar tingkat kebakaran nya tinggi itu ada kemungkinan kualitas udaranya makin menurun,” jelasnya.

Karena itu, pemantauan dilakukan dengan melihat perkembangan kebakaran di masing-masing wilayah. Palaran, Sambutan dan Samarinda Ulu menjadi kawasan yang mendapat perhatian lebih karena frekuensi kejadian kebakaran relatif tinggi.

Yang menjadi persoalan, perubahan kualitas udara dapat berlangsung cepat. Suwarso menyebut periode siang hingga sore menjadi waktu yang perlu diwaspadai karena kejadian kebakaran rata-rata berlangsung sejak siang hingga malam.

“Itu perjam juga berubah, yang agak rawan itu di jam dua siang dan sore, rata rata kebakaran kan siang ke malam, itu mempengaruhi kualitas udara, tapi secara umum masih sedang,” ungkapnya.

Di samping itu juga DLH telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan agar fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas, bersiap menghadapi kemungkinan meningkatnya gangguan pernapasan akibat paparan asap dan kondisi kekeringan.

Menurutnya, kabut kini hampir dirasakan di seluruh wilayah Samarinda. Kebakaran lahan di sejumlah titik turut memberikan pengaruh terhadap kualitas udara di masing-masing kecamatan. DLH pun terus melakukan pengukuran kualitas udara sekaligus membagikan masker kepada masyarakat.

“Pembagian masker dari DLH diutamakan di daerah yang frekuensi kebakaran nya tinggi, jadi berdasarkan skala prioritas,” pungkas Suwarso.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :