PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Jebakan Hubungan Toksik: Penjelasan dan Solusi dari Psikolog Klinis

Home Berita Jebakan Hubungan Toksik: ...

Hubungan toksik bisa merusak jati diri dan kesehatan mental. Tanda bahaya harus dikenali sejak awal sebelum seseorang terperangkap lebih dalam.


Jebakan Hubungan Toksik: Penjelasan dan Solusi dari Psikolog Klinis
Ilustrasi- Hubungan toksik bisa berdampak pada kesehatan mental seseorang yang cenderung menarik diri dari interaksi sosial. ANTARA/Ahmad Rifandi.

EKSPOSKALTIM, Samarinda - Psikolog dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Himpsi Kaltim, Fransisca Debi Oktavia, menjelaskan bagaimana seseorang bisa mengenali sinyal bahaya dalam hubungan toksik dan langkah awal untuk keluar demi menjaga kesehatan mental.

Ia mengatakan banyak orang bertahan terlalu lama karena hubungan sudah terjalin bertahun-tahun, keluarga dan teman saling kenal, serta pola relasi yang sudah telanjur dianggap normal.

Fransisca menilai kondisi ini sering membuat individu tidak sadar bahwa dirinya terjebak dalam pola relasi yang merusak secara emosional dan psikologis. Mereka terus beradaptasi demi menuruti pasangan, sambil mengabaikan kebutuhan batin sendiri.

Dampaknya tidak ringan. Identitas diri perlahan memudar. Hobi yang dulu memberi energi ikut hilang karena waktu dan perhatian habis untuk memuaskan ego pasangan.

"Korban hubungan tidak sehat ini bahkan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, sehingga interaksinya dengan dunia luar atau sahabat lama menjadi sangat terbatas,” ujar Fransisca, dikutip dari ANTARA.

Ia menyebut penurunan fungsi sehari-hari juga bisa muncul. Seseorang menjadi malas, kehilangan semangat, dan tidak lagi produktif seperti sebelumnya.

Menurut Fransisca, penting bagi setiap orang untuk mengecek dengan jujur apakah dirinya berkembang atau justru mengecil dalam hubungan itu. Termasuk menilai apakah kehadiran pasangan lebih sering memantik rasa takut daripada rasa nyaman.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah apakah pasangan benar-benar berubah lewat tindakan nyata, bukan hanya lewat janji manis.

Fransisca menyebut langkah paling awal untuk melepaskan diri adalah mengakui perasaan sendiri dan berhenti menolak kenyataan bahwa hubungan tersebut sudah tidak sehat. Rasa sayang yang tersisa sering menghambat pengambilan keputusan, tetapi menyangkal keadaan hanya akan memperburuk kondisi mental.

Ia menegaskan dukungan dari lingkungan terdekat seperti teman dekat atau keluarga sangat penting untuk membantu seseorang bertahan di fase paling berat saat memutuskan keluar dari hubungan toksik.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :