PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Sering Cemas soal Kerja? Psikolog Ungkap Tanda Mental Ini

Home Berita Sering Cemas Soal Kerja? ...

Pekerja perlu mulai waspada ketika kecemasan memunculkan tanda-tanda kelelahan mental.


Sering Cemas soal Kerja? Psikolog Ungkap Tanda Mental Ini
ILUSTRASi kondisi psikologis dan kesehatan mental. Foto: Istimewa

EKSPOSKALTIM, Samarinda – Rasa cemas menghadapi tekanan kerja ternyata tak bisa dianggap sepele. Psikolog Klinis RSJD Atma Husada Mahakam, Raden Roro Rani Meita Pratiwi, mengingatkan kecemasan yang dibiarkan berlarut dapat berkembang menjadi kelelahan mental dan mulai mengganggu produktivitas hingga relasi di tempat kerja.

Menurut Rani, kecemasan dalam dunia kerja umumnya muncul akibat ketidakpastian yang terus dipikirkan seseorang. Mulai dari rasa khawatir terhadap keamanan posisi pekerjaan, perubahan kebijakan kantor, hingga tekanan ekonomi.

“Kecemasan sering muncul karena adanya ketidakpastian, seperti kekhawatiran apakah posisi pekerjaan saat ini aman, adanya perubahan kebijakan, hingga tekanan ekonomi,” ujar Rani dikutip Senin (11/5).

Selain itu, rutinitas kerja yang monoton, minim apresiasi, hingga persoalan pribadi yang terbawa ke lingkungan kantor juga menjadi faktor pemicu lain.

https://www.eksposkaltim.com/berita/tragedi-sepatu-sempit-di-samarinda-risiko-medis-yang-tak-lagi-sepele-17103.html

Rani menjelaskan pekerja perlu mulai waspada ketika kecemasan memunculkan tanda-tanda kelelahan mental. Gejalanya bisa berupa tubuh yang mudah lelah, cepat jenuh, sulit fokus, hingga menjadi lebih sensitif saat berinteraksi dengan rekan kerja.

“Gejala seperti menjadi sensitif atau mudah tersinggung saat berinteraksi dengan rekan kerja merupakan tanda seseorang sedang mengarah pada kondisi keletihan mental,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa kecemasan berbeda dengan stres biasa. Jika stres umumnya memiliki sumber yang jelas dan bisa mereda setelah masalah selesai, kecemasan justru muncul dari pikiran terhadap kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.

Untuk mengendalikan kondisi tersebut, Rani menyarankan pekerja tidak memaksakan diri menyelesaikan semua persoalan sekaligus. Fokus pada pekerjaan yang sedang dijalani dinilai lebih efektif untuk menjaga kestabilan emosi.

Saat rasa panik muncul, seseorang juga dianjurkan memperlambat gerakan tubuh dan mulai mengatur napas agar detak jantung serta ketegangan fisik perlahan menurun.

https://www.eksposkaltim.com/berita/tak-cuma-obat-pasien-kanker-paru-juga-butuh-pendamping-17132.html

“Kesadaran untuk hadir di masa kini sangat penting karena cemas berlebihan terhadap hal yang belum pasti hanya akan merenggut kebahagiaan,” katanya.

Rani juga mendorong pekerja menjaga kesehatan mental melalui aktivitas sederhana seperti olahraga ringan atau berjalan kaki. Selain membantu tubuh lebih rileks, aktivitas tersebut dapat memicu hormon kebahagiaan dan menjadi sarana pelepas tekanan yang lebih sehat.

Dalam lingkungan kerja, ia mengingatkan pentingnya sikap terbuka terhadap masukan dan kritik agar seseorang dapat berkembang, bukan sekadar mengulang permintaan maaf atas kesalahan yang sama.

Menurutnya, kemampuan bertahan dan terus meningkatkan kapasitas diri menjadi kunci utama menjaga kesehatan mental di tengah situasi hidup dan dunia kerja yang terus berubah.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :