Kerusakan jalan nasional di berbagai wilayah Kalimantan Timur kian mengkhawatirkan dan mulai mengganggu mobilitas warga serta distribusi logistik. Kondisi itu dilaporkan langsung Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud kepada Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyusul banyaknya ruas jalan rusak parah, dari jalur Kutai Barat hingga akses menuju Mahakam Ulu dan kawasan Ibu Kota Nusantara.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud mengungkapkan telah melaporkan secara langsung kondisi kerusakan jalan nasional di wilayahnya kepada Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
“Soal kondisi jalan nasional, tadi langsung saya sampaikan secara mendalam kepada Pak Menko saat berada di mobil,” kata Rudy Mas’ud usai menyambut kedatangan AHY di VIP Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Balikpapan, Senin (13/1).
Menurut Rudy, salah satu ruas paling memprihatinkan adalah jalur nasional Kutai Barat–Samarinda. Hampir di sepanjang jalur tersebut ditemukan kerusakan merata dengan lubang-lubang jalan yang sangat dalam, bahkan mencapai 50 hingga 60 sentimeter, sehingga membahayakan pengguna jalan dan memperlambat arus kendaraan.
Pada awal Januari 2026, kondisi jalur tersebut sempat nyaris melumpuhkan lalu lintas. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pun telah mendesak Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) untuk segera melakukan penanganan darurat.
Kerusakan berat juga terjadi pada jalur Kutai Barat–Mahakam Ulu yang merupakan satu-satunya akses darat menuju wilayah pedalaman. Kondisi jalan yang rusak parah dinilai menghambat distribusi logistik dan menaikkan biaya angkut barang. Untuk membantu percepatan perbaikan, Pemprov Kaltim mengalokasikan dana sekitar Rp90 miliar dengan target penanganan tuntas pada 2026.
Selain ruas jalan lama, Rudy turut menyoroti kondisi infrastruktur baru Jalan Tol Ibu Kota Nusantara (IKN), khususnya segmen Karangjoang dan Seksi 3A2. Pada awal Januari 2026, ruas tol tersebut mengalami penurunan struktur dan pergeseran tanah akibat cuaca ekstrem dan hujan deras. BBPJN menargetkan perbaikan selesai sebelum arus mudik Lebaran 2026.
Jalur lain yang juga menjadi perhatian adalah Sangatta–Bengalon. Kerusakan di kawasan crossing tambang pada ruas ini disebut hampir memutus akses jalan dan berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat serta distribusi barang.
Menanggapi laporan tersebut, Rudy menyampaikan bahwa Menko AHY berkomitmen untuk mengawal proses perbaikan dan pembangunan infrastruktur jalan nasional di Kalimantan Timur. “Beliau berjanji akan mengawal pembangunan infrastruktur jalan-jalan nasional kita hingga tuntas,” ujar Rudy.
Di luar jalan nasional, Rudy juga menekankan urgensi perbaikan ruas Sotek–Bongan yang berperan strategis sebagai jalur penyangga Ibu Kota Nusantara. Meski saat ini statusnya masih non-nasional, Pemprov Kaltim mengambil inisiatif melakukan perbaikan awal menggunakan anggaran daerah.
“Jalan Sotek–Bongan statusnya masih non-nasional. Kami rapikan dulu menggunakan anggaran daerah, baru kemudian diusulkan statusnya menjadi jalan nasional karena ini jalur akses utama menuju IKN,” katanya.
Ruas Sotek–Bongan diproyeksikan menjadi urat nadi baru yang memangkas waktu tempuh serta memperlancar distribusi logistik, bahan bakar minyak, dan mobilitas warga dari Balikpapan dan Penajam Paser Utara menuju Kutai Barat hingga Mahakam Ulu.
Agenda kunjungan Menko AHY di Balikpapan juga dijadwalkan untuk mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam peresmian Proyek Strategis Nasional (PSN) Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada Senin siang.


