Pembantaian penyu hijau di Pulau Balikukup dinilai bukan sekadar tindak perburuan satwa dilindungi.
EKSPOSKALTIM, Berau – Lembaga konservasi internasional Global Conservation menilai pembantaian seekor induk penyu hijau (Chelonia mydas) yang sedang bertelur di Pulau Balikukup, Kabupaten Berau, sebagai kehilangan ekologis besar dan momentum untuk memperluas intervensi perlindungan kawasan.
Perwakilan Global Conservation di Kalimantan Timur, Zenobia, menyatakan bahwa kematian tragis penyu betina produktif yang ditemukan pada Minggu (2/8) itu bukan kondisi yang bisa dianggap biasa.
"Hilangnya satu individu penyu betina dewasa merupakan kehilangan yang sangat besar bagi ekosistem. Penyu memiliki siklus hidup panjang dan butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai usia reproduktif. Hilangnya satu betina dewasa berarti memutus potensi reproduksinya untuk musim ini dan masa-masa mendatang," tegas Zenobia di Berau, ditulis Rabu (5/8).
Kawasan perairan Berau dan pulau-pulau kecil sekitarnya, termasuk Pulau Sangalaki, Pulau Balembangan, dan Pulau Balikukup, merupakan ekosistem penting bagi perkembangbiakan penyu. "Perlindungan di kawasan ini memang sangat penting," ujarnya.
Menindaklanjuti rapat koordinasi bersama UPTD KKP3K-KDPS Berau dan PSDKP pada Senin (3/8), Global Conservation menyatakan kesiapan memberikan dukungan untuk memperkuat frekuensi patroli dan pemantauan perairan.
"Fokus kami sebagai lembaga donor adalah membantu memperkuat perlindungan kawasan melalui dukungan patroli dan monitoring bersama UPTD serta instansi terkait," jelasnya.
Mengenai kronologi detail pembantaian dan pencarian pelaku, Global Conservation menyerahkan proses investigasi sepenuhnya kepada aparat penegak hukum dan instansi pemerintah yang memiliki wewenang.
"Kami menghormati independensi penegak hukum, namun siap memberikan fasilitasi bantuan jika dibutuhkan dalam koridor kerja sama yang berlaku," ujar Zenobia.
Ia juga mengajak masyarakat pesisir dan nelayan untuk bersama-sama menjaga penyu dan habitatnya.
"Perlindungan penyu tidak bisa dilakukan oleh satu lembaga saja, butuh kolaborasi antara pemerintah, APH, masyarakat pesisir, hingga nelayan. Jika warga melihat aktivitas yang mengancam penyu atau habitatnya, segera laporkan ke aparat agar bisa ditindak sesuai hukum," tegasnya.
UPTD Perketat Patroli dan Edukasi
Sebagai respons atas temuan tersebut, Kepala UPTD KKP3K-KDPS Berau, Didik Riyanto, menyatakan pihaknya akan memperketat pengawasan dan menurunkan tim penyelidik ke Balikukup dalam waktu dekat.
"Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Penyu adalah biota laut yang dilindungi sekaligus ikon Kabupaten Berau. Kami akan menyelidiki kasus ini untuk menemukan pelaku," kata Didik.
Agustus hingga November merupakan puncak musim peneluran penyu di Balikukup. Dalam satu siklus, penyu menghasilkan 80 hingga 100 butir telur. Bahkan dalam semalam, hingga lima ekor penyu naik ke pantai untuk bertelur.
Hasil rapat koordinasi menyepakati peningkatan patroli dengan frekuensi dua hingga tiga kali sebulan, menyesuaikan anggaran dan dukungan mitra konservasi.
"Kami perkuat monitoring terhadap biota laut dilindungi, khususnya penyu yang bertelur di Pulau Balikukup. Kami libatkan masyarakat, Pokmaswas, aparat, dan lembaga konservasi. Kejadian ini tidak boleh terulang, baik di Balikukup maupun wilayah lain," tegas Didik.
Ia menambahkan selain penyu, biota laut lain seperti dugong (duyung) juga semakin jarang ditemukan akibat perburuan dan tekanan terhadap habitat.
"Ke depan kami akan berupaya semaksimal mungkin bersama seluruh unsur terkait untuk mencegah perburuan satwa laut dilindungi agar tidak terulang kembali," tutup Didik.



