Seekor penyu hijau ditemukan tewas dibantai dalam kondisi sedang bertelur di Pulau Balikukup, Berau. Bagian perut satwa dilindungi itu dibedah untuk mengambil telur-telurnya.
EKSPOSKALTIM, Berau – Seekor penyu hijau (Chelonia mydas) ditemukan tewas dalam kondisi sedang bertelur di Kawasan Pulau Balikukup, Kabupaten Berau. Temuan ini memicu aparat untuk memperketat pengawasan dan menurunkan tim penyelidik guna memburu pelaku.
Peristiwa tragis ini terungkap saat patroli rutin Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) pada Minggu (2/8) pagi. Petugas mendapati satwa dilindungi tersebut dibantai, dengan bagian perut dibedah hingga telurnya diambil.
Penyu hijau saat ini berstatus terancam punah (Endangered) dalam Daftar Merah IUCN karena populasinya terus merosot akibat perburuan liar dan kerusakan habitat pesisir.
"Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Penyu adalah biota laut yang dilindungi sekaligus ikon Kabupaten Berau," tegas Kepala UPTD KKP3K-KDPS Berau, Didik Riyanto, Selasa (4/8).
Musim Bertelur dan Ancaman Perburuan
Bulan Agustus hingga November merupakan puncak musim peneluran penyu di Balikukup. Dalam satu siklus, penyu dapat menghasilkan 80 hingga 100 butir telur. Bahkan, dalam semalam, hingga lima ekor penyu naik ke pantai untuk bertelur. Momen ini justru dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab.
Menindaklanjuti temuan tersebut, UPTD KKP3K-KDPS menggelar rapat koordinasi pada Senin (3/8) dengan Stasiun PSDKP Tarakan Wilker Berau, Wilker Derawan, PSDKP Provinsi Kaltim, dan lembaga konservasi Global Conservation.
“Kami akan menyelidiki kasus ini untuk menemukan pelaku. Dalam waktu dekat, tim akan diturunkan ke Balikukup,” ujar Didik.
Patroli Ditingkatkan, Frekuensi Dua hingga Tiga Kali Sebulan
Hasil rapat menyepakati peningkatan pengawasan di kawasan konservasi dan habitat peneluran penyu. UPTD akan menurunkan personel secara berkala dengan frekuensi patroli dua hingga tiga kali sebulan, menyesuaikan anggaran dan dukungan mitra.
"Kami perkuat monitoring terhadap biota laut dilindungi, khususnya penyu yang bertelur di Pulau Balikukup," tambahnya.
Meski masyarakat Balikukup telah beberapa kali mendapat sosialisasi, kata dia, UPTD akan terus menggencarkan edukasi agar kesadaran tetap terjaga dan perburuan tidak terulang.
"Kami libatkan masyarakat, Pokmaswas, aparat, dan lembaga konservasi. Kejadian ini tidak boleh terulang, baik di Balikukup maupun wilayah lain," tegas Didik.
Ia menambahkan selain penyu, biota laut lain seperti dugong (duyung) juga semakin jarang ditemukan akibat perburuan dan tekanan terhadap habitat. Pihaknya berkomitmen maksimal mencegah perburuan satwa laut dilindungi.



