Di tengah laju modernisasi Samarinda, masyarakat adat Dayak Kenyah di Kampung Budaya Pampang terus merawat tradisi panen leluhur. Bagi mereka, budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu.
EKSPOSKALTIM, Samarinda — Di tengah laju pembangunan Kota Samarinda yang kian modern, Kampung Budaya Pampang kembali mengingatkan bahwa kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur. Melalui Festival Budaya Dayak Kenyah, masyarakat adat menunjukkan bahwa warisan budaya tetap menjadi pondasi penting yang menjaga identitas, persatuan, sekaligus keberlanjutan kehidupan sosial.
Pesan itu mengemuka dalam perhelatan Festival Budaya Dayak Kenyah yang digelar di Kampung Budaya Pampang, Samarinda, Kalimantan Timur.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menegaskan pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan upaya merawat nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.
"Semua kemajuan fisik kota tidak akan memiliki arti apa pun jika nilai-nilai sosial tidak tumbuh dan dirawat di atas pondasi budaya," kata Andi Harun, kemarin (25/6).
Menurut dia, berbagai proyek pembangunan yang tengah dilakukan pemerintah kota tidak akan bermakna apabila tidak disertai penguatan kohesi sosial dan pelestarian identitas budaya masyarakat.
Ia bahkan menyebut pembangunan infrastruktur besar sekalipun tidak akan cukup jika persatuan sosial di tengah masyarakat tidak terjaga.
Bagi Pemkot Samarinda, nilai-nilai yang diwariskan melalui tradisi dan budaya lokal merupakan fondasi penting dalam menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat di tengah perubahan zaman.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Adat Kampung Budaya Pampang, Esrom Palan.
Ia berkata masyarakat adat meyakini bahwa kekayaan terbesar yang diwariskan leluhur bukanlah harta benda, melainkan budaya yang terus dijaga lintas generasi.
"Nenek moyang kita tidak meninggalkan perak maupun emas, tetapi kekayaan budaya inilah yang kami persembahkan sebagai bentuk dukungan kepada daerah," ujarnya.
Festival budaya yang digelar setiap tahun itu juga menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk memahami tradisi panen dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan leluhur Dayak Kenyah.
Di tengah derasnya arus modernisasi perkotaan, masyarakat adat Pampang berupaya mempertahankan identitas budaya sebagai bagian dari strategi bertahan hidup sekaligus menjaga keberlanjutan komunitas.
"Semboyan orang tua kami mengingatkan bahwa hasil berladang bisa saja habis, tetapi kalau kita hidup berbudaya maka nilainya tidak akan pernah habis," kata Esrom.
Menurut dia, pelestarian seni dan tradisi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Keunikan budaya yang tetap terjaga menjadi daya tarik wisata yang mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah.
Kehadiran wisatawan tidak hanya membantu memperkenalkan budaya Dayak Kenyah kepada masyarakat luas, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian warga setempat.
"Semoga keindahan seni budaya di Kampung Budaya Pampang ini bisa terus menawan hati orang-orang dari berbagai daerah agar datang berkunjung," ujarnya.
Esrom menambahkan pelestarian budaya dan kerukunan sosial merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, keseimbangan antara menjaga tradisi leluhur dan merawat harmoni masyarakat menjadi kunci terciptanya kehidupan yang damai di tengah keberagaman.
"Keseimbangan antara kebanggaan pelestarian tradisi leluhur dan kerukunan sosial merupakan kunci terciptanya kedamaian sejati di tengah masyarakat," tutupnya.




