01 Agustus 2021
  • PORTAL BERITA ONLINE
  • NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE
  • BERANI BEDA..!!
  • MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

PWI Desak Kapolri Usut Tuntas Penembakan Wartawan di Simalungun


PWI Desak Kapolri Usut Tuntas Penembakan Wartawan di Simalungun
Aksi premanisme terhadap pers kembali terjadi, seorang wartawan di Simalungun menjadi korban dan tewas ditembak orang tak dikenal, Sabtu (19/6). (foto:ilustrasi)

EKSPOSKALTIM.COM, Bontang – Kekerasan terhadap  wartawan kembali terjadi. Kali ini datang dari wartawan media online bernama Mara Salem Harahap atau akrab disapa Marsal, meninggal dunia usai ditembak orang tak dikenal, Sabtu (19/6/21) dini hari. Luka tembak ditemukan di paha sebelah kiri pemburu berita tersebut.

 Tak ayal, kejadian itu mendapat kecaman dari Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)  Bontang Isur Said.

Baca juga : Dukung Program Pemerintah, ATB Ikut Vaksinasi Massal Polres Bontang

Isur Said meminta aparat kepolisian segera mengusut tuntas pelaku penembakan tersebut. Terlebih Profesi wartawan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers, seharusnya tidak saja dijamin, tapi mendapat perlindungan hukum saat menjalankan tugas profesinya.

"Kami mengecam keras tindakan pelaku yang menghabisi nyawa Marsal Harahap. Ini tugas berat aparat untuk mengungkap pelaku pembunuhan," tegasnya, Sabtu (19/6/2021).

Bila ada berita salah atau tidak sesuai informasi yang benar, kata dia, masyarakat dapat membuat keberatan melalui hak jawab ke media terkait, dan itu diatur dalam Undang-Undang Nomor No 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Media yang tidak menayangkan hak jawab, Penjab/Pemrednya terancam hukuman kurungan 6 bulan penjara atau denda Rp500 juta.

"Jadi bukannya menghabisi nyawa wartawan yang membuat beritanya. Kami berdukacita yang mendalam. Semoga arwah Marsal Harahap, diterima disisi Tuhan Yang Maha Esa, dan keluarga tabah, bersabar atas musibah ini, " imbuhnya.

Dirinya pun meminta kepada wartawan agar berhati-hati saat bertugas, lebih menomorsatukan keselamatan jiwa daripada sebuah berita yang saat mendapatkannya nyawa menjadi taruhannya.

Terpisah, Ketua PWI Kaltim Endro S. Efendi bersama Ketua Dewan Kehormatan PWI Kaltim Intoniswan berharap, kasus kekerasan terhadap wartawan, apalagi sampai menghilangkan nyawa, tidak terjadi lagi. 

“Sangat miris mendapatkan informasi seperti ini. Ketika masyarakat pers sedang semangat untuk meningkatkan kemerdekaan pers yang bertanggung jawab, masih ada saja oknum yang main hakim sendiri,” sebut Endro.

Dikatakan Endro, penembakan yang dilakukan terhadap Marsal Harahap ini diduga terkait dengan pemberitaan. Dari hasil penelusuran diketahui, Marsal Harahap sebelumnya sempat divonis 6 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Simalungun Sumatera Utara karena dianggap melakukan pencemaran nama baik atas pemberitaan berjudul: Proyek Korupsi di RSUD Perdagangan Rp 9,1 Miliar Diduga Melibatkan Bupati Simalungun Saragih dan Oknum Anggota DPRD Simalungun Elias Barus.

Namun, belum bisa dipastikan, apakah penembakan yang terjadi, ada kaitannya atau tidak dengan pemberitaan yang disiarkan korban sebelumnya. Karena itu, Endro berharap, aparat penegak hukum benar-benar serius dan transparan untuk mengungkap kasus ini. 

Endro juga menyampaikan, dari sisi Indeks Kemerdekaan Pers (IKP), situasi di Sumatera Utara memang perlu perhatian serius. Endro yang sebelumnya mengikuti Focus Group Discussion (FGD) IKP 2021 di Jakarta menyampaikan, posisi Sumatera Utara berada di peringkat 26.

“Padahal, 2020 lalu, peringkat IKP Sumatera Utara sempat berada di posisi 16,” kata Endro. Bahkan, pada 2019, peringkat IKP Sumatera Utara berada di posisi 32, dari 34 provinsi yang ada di Indonesia.

Baca juga : Disdikbud Bontang Pastikan Pembelajaran Tatap Muka di Mulai Bulan Depan

Dari indeks tersebut bisa ditarik kesimpulan, kemerdekaan pers di provinsi tersebut memang mengkhawatirkan. Sebab, masih ada saja oknum tertentu yang diduga melakukan kekerasan atau menghalangi kerja pers dalam mencari informasi. 

Sementara itu, Ketua Dewan Kehormatan PWI Kaltim Intoniswan menyampaikan, kasus pers harus dituntaskan melalui jalur Undang-Undang Pers. “Tidak ada berita seharga nyawa. Aparat keamanan harus mengusut tuntas pelakunya. Yang paling penting, otak pelakunya juga harus diungkap,”  tegasnya.

Intoniswan menyampaikan, atas nama PWI Kaltim menyampaikan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas kejadian ini. Harapannya, keluarga wartawan yang menjadi korban tetap tabah dan bersabar atas musibah ini.

Reporter : Hermawan    Editor : Abdullah

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%


Comments

comments


Komentar: 0