PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Pentingnya Konsistensi, Ketimbang Resolusi demi Kesehatan Jiwa

Home Berita Pentingnya Konsistensi, K ...

Di tengah tren resolusi besar di awal tahun, psikolog Rumah Sakit Jiwa Daerah Atma Husada Mahakam Samarinda menegaskan bahwa kesehatan mental justru lebih terjaga melalui konsistensi perilaku sehari-hari yang sederhana namun berkelanjutan.


Pentingnya Konsistensi, Ketimbang Resolusi demi Kesehatan Jiwa
Foto ilustrasi: antara

EKSPOSKALTIM - Psikolog Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam Samarinda, Kalimantan Timur, Raden Roro Rani Meita Pratiwi, menekankan bahwa konsistensi perilaku jauh lebih relevan dalam menjaga kesehatan jiwa masyarakat dibanding sekadar menetapkan resolusi besar.

“Konsistensi lebih relevan daripada resolusi dalam menjaga kesehatan jiwa karena resolusi cenderung besar dan motivasinya tinggi di awal, namun mudah menurun,” ujar Rani dikutip dari antara.

Menurutnya, pola pikir yang terlalu mengandalkan resolusi kerap menjebak seseorang pada target perubahan besar yang harus tercapai dalam waktu singkat. Kondisi ini justru berpotensi memicu tekanan mental baru ketika ekspektasi tidak terpenuhi.

Sebaliknya, pendekatan konsistensi menekankan langkah-langkah kecil yang dilakukan secara rutin, dengan motivasi yang lebih stabil dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Cara ini dinilai lebih realistis dan ramah terhadap kondisi psikologis individu.

Rani menilai konsistensi juga lebih menyehatkan mental karena fokusnya bukan semata pada hasil akhir, melainkan pada penghargaan terhadap proses, pertumbuhan pribadi, keinginan belajar, ketekunan, serta kedisiplinan diri.

“Masyarakat perlu mengubah persepsi tentang pencapaian kesehatan mental yang tidak harus selalu dimulai dengan perubahan drastis, apalagi hanya di awal tahun,” ungkapnya.

https://eksposkaltim.com/berita-15997-waspada-superflu-dinkes-kaltim-soroti-pelaku-perjalanan-luar-negeri.html

Selain soal metode pencapaian, Rani juga menyoroti masih banyaknya kesalahpahaman masyarakat tentang konsep sehat jiwa. Salah satu yang paling umum adalah anggapan bahwa seseorang yang sehat mentalnya harus selalu merasa bahagia dan bebas dari emosi negatif.

“Masyarakat sering mengira indikator kesehatan mental adalah tidak adanya masalah hidup, produktivitas yang terus-menerus tinggi, atau kondisi ekonomi yang mapan,” jelasnya.

Tak jarang pula, faktor eksternal seperti keluarga yang harmonis, pasangan yang selalu memahami, dan lingkungan pertemanan yang ideal dijadikan tolok ukur mutlak kesehatan jiwa.

Padahal, Rani menegaskan bahwa kesehatan jiwa sejati justru berangkat dari kesadaran diri—mengenali kelemahan dan kelebihan, memahami potensi serta harapan, hingga mampu menerima pengalaman masa lalu.

Kunci utamanya, kata dia, terletak pada kemampuan individu untuk beradaptasi dengan situasi sulit, menghadapi tantangan secara efektif, dan tetap mempertahankan fungsi sosialnya.

“Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak terjebak pada standar kesempurnaan semu yang justru dapat memicu kecemasan ketika realitas tidak sesuai dengan ekspektasi ideal,” tutup Rani.

 


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :