Wehea-Kelay membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar, tanpa harus merusak hutan sebagai sumber kehidupan jangka panjang.
EKSPOSKALTIM, Samarinda - Bentang alam Wehea–Kelay di Kalimantan Timur kian mengukuhkan posisinya sebagai salah satu lanskap hutan paling strategis di Indonesia. Dengan tutupan hutan yang masih mencapai sekitar 80 persen, kawasan yang membentang dari Kutai Timur hingga Berau ini tidak hanya menjadi rumah bagi orang utan Kalimantan, tetapi juga menyimpan potensi mitigasi perubahan iklim setara 191 juta ton emisi karbon.
Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Herlina Hartanto menyebut Wehea–Kelay sebagai contoh konkret bagaimana pengelolaan kolaboratif mampu menjaga keseimbangan antara perlindungan ekologi dan kepentingan sosial-ekonomi.
“Sekitar 80 persen kawasan Wehea–Kelay masih berupa hutan alami yang berperan besar menyimpan karbon dan menjaga biodiversitas,” kata Herlina dikutip dari antara, Minggu (26/1).
Penetapan bentang alam Wehea–Kelay mengikuti pola sebaran orang utan Kalimantan, yang terhubung oleh sungai-sungai besar seperti Sungai Kelay, Sungai Wehea, hingga sebagian hulu Sungai Telen. Kawasan ini sekaligus menjadi wilayah hulu penting bagi Sungai Mahakam dan Sungai Segah, dengan lebih dari 5.000 kilometer daerah aliran sungai yang menopang kehidupan masyarakat di Berau dan Kutai Timur.
Fungsi ekologisnya tidak berhenti pada habitat satwa langka. Wehea–Kelay juga menyediakan jasa lingkungan krusial, mulai dari pengaturan tata air hingga kualitas udara bersih bagi wilayah sekitarnya.
Sejak 2015, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama YKAN menggandeng berbagai pihak untuk mengelola kawasan ini secara kolaboratif. Hasilnya mulai terlihat. Studi terbaru pada 2025 mencatat penambahan temuan jenis flora dan fauna dibandingkan pendataan awal, menandakan kondisi ekosistem yang relatif terjaga.
“Ini menunjukkan bahwa kepentingan ekonomi, lingkungan, dan sosial budaya bisa berjalan beriringan tanpa mengorbankan biodiversitas, termasuk habitat orang utan yang berada di luar kawasan konservasi formal,” ujar Herlina.
Di luar upaya perlindungan, pengelolaan Wehea–Kelay juga diarahkan pada pemanfaatan hasil hutan bukan kayu melalui pendekatan bioprospeksi. Dari kajian terhadap 60 jenis tumbuhan hutan yang terinspirasi dari pakan orang utan, ditemukan 11 jenis yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi, mulai dari kandungan fitokimia untuk kesehatan hingga potensi antidiabetes dan antikanker.
Potensi ini dinilai membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar, tanpa harus merusak hutan sebagai sumber kehidupan jangka panjang.
Hingga kini, pengelolaan Wehea–Kelay melibatkan 23 pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, masyarakat adat, perguruan tinggi, lembaga penelitian, hingga organisasi nonpemerintah. Dari sektor swasta, sebagian besar merupakan pemegang konsesi PBPH-Hutan Alam yang telah mengantongi sertifikasi Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Forest Stewardship Council (FSC).
Sementara itu, Hutan Lindung Wehea dikelola langsung oleh Masyarakat Adat Wehea, mempertegas peran komunitas lokal sebagai penjaga utama bentang alam yang kini menjadi salah satu benteng biodiversitas Kalimantan Timur.

