Setelah lama berjalan lambat, Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) mulai dilirik investor lintas sektor. Dari kimia hingga energi surya.
EKSPOSKALTIM, Sangatta - Sejumlah investor dari sektor industri kimia, energi pembangkit listrik tenaga surya, hingga logistik menyatakan kesiapan menanamkan modal di Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK), Kutai Timur.
Direktur KEK MBTK Ade Himawan mengatakan kawasan ini merupakan KEK ke-8 di Indonesia yang ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 2014 dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 1 April 2019.
Namun, perjalanan KEK ini tidak sepenuhnya mulus. Ade mengakui, investasi sempat tersendat hingga 2021 sebelum dilakukan evaluasi menyeluruh oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Mei tahun yang sama.
Evaluasi tersebut menjadi titik balik percepatan pengembangan kawasan, termasuk melalui penguatan kolaborasi dengan mitra usaha.
Salah satu realisasinya adalah kerja sama PT Maloy Batuta Trans Kalimantan dengan PT Palma Serasih Internasional sejak Juli 2022. Perusahaan tersebut telah membangun dua tangki timbun berkapasitas masing-masing 5.000 metrik ton serta fasilitas penumpukan cangkang.
“Setelah tahap pertama rampung dengan tambahan empat tangki timbun lagi, kami akan melanjutkan tahap kedua berupa pembangunan refinery minyak goreng,” ujar Ade.
Saat ini, terdapat enam calon investor dari dalam dan luar negeri yang menunjukkan minat serius untuk memperkuat ekosistem industri di kawasan tersebut.
Mereka antara lain PT Aracord Nusantara yang merencanakan pembangunan pabrik pengolahan batu bara menjadi amoniak, PT Palm Tree Energy Conversion untuk pengolahan tandan kosong kelapa sawit menjadi pelet kayu, serta Hongshi Holding Group yang berencana membangun pabrik polisilikon.
Selain itu, Limes Renewable Energy akan mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), PT Trinusa Jaya Prima di sektor pelabuhan, dan PT Prima Nusantara Indosentosa pada pembangunan gudang logistik.
Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menegaskan KEK MBTK merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi daerah.
Ia menyebut kawasan ini diproyeksikan sebagai pintu gerbang logistik internasional sekaligus pusat pertumbuhan baru berbasis hilirisasi.
“Sinergi seluruh pemangku kepentingan harus diperkuat agar KEK MBTK memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah,” kata Rudy.
Dukungan juga datang dari BUMD melalui PT Kaltim Melati Bhakti Satya (Perseroda). Direktur Utama Aji Mohammad Abidharta Wardhana Hakim memastikan kesiapan perusahaan dalam menopang kebutuhan dasar kawasan, termasuk optimalisasi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).
Keberadaan KEK MBTK yang berada di jalur strategis Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II dinilai menjadi keunggulan tersendiri untuk menarik investasi, sekaligus mendorong hilirisasi komoditas unggulan dan transformasi menuju ekonomi hijau di Kalimantan Timur. (ant)

