PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Bahaya Virus Hanta: Berawal dari Tikus, Berujung Gagal Napas

Home Berita Bahaya Virus Hanta: Beraw ...

Virus hanta kembali menjadi ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai, terutama bagi masyarakat yang sering terpapar lingkungan kotor dan sarang tikus.


Bahaya Virus Hanta: Berawal dari Tikus, Berujung Gagal Napas
Ilustrasi - Tikus penyebab penularan virus hanta. (ANTARA/dok.)

EKSPOSKALTIM, Jakarta - Infeksi virus hanta kembali menyita perhatian setelah dilaporkan menyebabkan tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius tujuan Tenerife, Spanyol, meninggal dunia. Virus yang ditularkan melalui paparan kotoran tikus ini disebut dapat berkembang menjadi gangguan paru-paru dan ginjal yang mematikan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Bethsaida Hospital dr. Rio Yansen Cikutra menjelaskan virus hanta merupakan kelompok virus yang umumnya ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus.

“Infeksi Hantavirus paling sering terjadi melalui airborne transmission, yakni saat seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi,” kata dr. Rio dalam keterangan tertulis, ditulis Kamis (15/5).   

Menurutnya, penularan juga dapat terjadi ketika seseorang menyentuh permukaan atau sarang tikus yang terkontaminasi, lalu tanpa sadar menyentuh area wajah seperti hidung, mata, atau mulut.

Virus hanta diketahui dapat memicu dua sindrom utama pada manusia, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan sistem pernapasan, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.

Secara klinis, gejala infeksi biasanya berkembang dalam dua tahap.

Pada fase awal, penderita umumnya mengalami demam tinggi, sakit kepala hebat, nyeri otot terutama di bagian paha dan punggung, tubuh lemas, hingga gangguan pencernaan seperti muntah, nyeri perut, dan diare.

Namun pada tahap lanjut, kondisi pasien dapat memburuk drastis dengan munculnya batuk, sesak napas akut akibat cairan di paru-paru, penurunan tekanan darah, gangguan fungsi ginjal, hingga syok.

“Jika Anda mulai merasakan gejala seperti demam tinggi yang disertai nyeri otot hebat, terutama setelah beraktivitas di lingkungan yang berisiko atau memiliki riwayat kontak dengan hewan pengerat, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” ujar dr. Rio.

Ia mengingatkan kelompok pekerja di sektor pertanian, perkebunan, hingga masyarakat yang sering beraktivitas di alam terbuka seperti berkemah memiliki risiko lebih tinggi karena berpotensi bersentuhan langsung dengan habitat tikus.

Untuk mencegah penularan, masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, menghindari area dengan populasi tikus tinggi, serta menutup celah rumah yang berpotensi menjadi akses masuk hewan pengerat.

Dr. Rio juga menyarankan membersihkan area berdebu menggunakan metode pel basah agar partikel berbahaya tidak beterbangan dan terhirup.

Sementara itu, Direktur Bethsaida Hospital dr. Margareth Aryani Santoso mengatakan pihak rumah sakit menyiapkan fasilitas ruang isolasi dan tim medis untuk menghadapi potensi penyakit infeksi menular seperti virus hanta.

“Kami berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas, termasuk dalam menghadapi risiko penyakit infeksi seperti Hantavirus,” katanya. (ant)


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :