EKSPOSKALTIM, Bontang – Awaluddin, suami dari almarhumah Asmawati yang menjadi korban keganasan penyakit DBD bersama anak yang masih dikandungnya, menceritakan kronologi saat pertama kali istrinya (almarhumah) mengidap penyakit yang merenggut nyawa istri dan anaknya itu.
Dikisahkan Awaluddin, sejak hari Senin (22/8) lalu, istrinya yang saat itu sedang mengandung 9 bulan tak kuasa menahan dampak penyakit DBD ini. Namun, Awaluddin mengira waktu itu istrinya hanyalah mengidap demam biasa selayaknya orang yang ingin melahirkan.
"Jadi saya bawa ke Puskesmas untuk memeriksakan, dan di Puskesmas hanya diberikan obat penurun panas saja," kata awaluddin dikediamannya, Rabu (24/8)
Karena demam yang dialami sang istri tak kunjung turun, akhirnya Awaluddin membawa istrinya ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut.
"Hari Senin tanggal 22 Agustus 2016 saya membawa istri saya ke Rumah Sakit untuk memeriksakan keadaannya lebih lanjut. Karena saya periksakan hanya diberi obat demam panas saja, tapi setelah saya periksakan kok tidak ada perubahan. Maka dari itu saya bawa Ke Rumah Sakit, dan disana baru diketahui kalau istri saya terkena dbd." ujarnya
Setelah beberapa hari dirawat oleh pihak Rumah Sakit, pihak keluarga memeriksakan kandungan sang istri yang memang sudah masuk masa persalinan, akan tetapi yang maha kuasa berkehendak lain. Akibad DBD dan kondisi janin yang terlilit tali pusar, mengakibatkan ibu dan bayi yang masih dalam kandungan tidak dapat diselamatkan.
"Mau diapakan lagi, kami sayang kepada istri saya apa lagi dia mau melahirkan anak kedua saya. Tapi betapapun kami menyayangi istri saya, akan tetapi Allah sudah memutuskan yang terbaik untuk keluarga kami, dan kami hanya bisa ikhlas untuk kepergian istri saya agar dia dan anak saya bisa tenang di sana," ucapnya
Awaluddin berharap dinas terkait dapat bertindak cepat agar kejadian ini bisa segera diatasi, supaya tidak berjatuhan korban yang jauh lebih banyak lagi.
"Saya sangat mengharapkan agar pihak - pihak terkait untuk bisa bertindak dengan cepat, jadikan kejadian yang sudah berlalu sebagai contoh untuk meningkatkan kinerja. Jangan sampai jauh lebih banyak korban berjatuhan yang diakibatkan oleh DBD, baru dinas hanya bisa berjanji tanpa melakukan sesuatu," tandasnya
Seperti diberitakan sebelumnya, almarhumah Asmawati beserta anaknya yang dikandungnya meninggal pada hari Rabu (24/8) lalu. Di hari yang sama, seorang bocah berusia 3,8 tahun juga meninggal karena menderita penyakit DBD, sama seperti yang diderita Asmawati di akhir hayatnya.

