PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Enam Harta Karun Hijau yang Masih Bertahan di Hutan Kutai

Home Berita Enam Harta Karun Hijau Ya ...

Di antara ratusan ribu hektare hutan hujan tropis Kaltim, masih tumbuh flora-flora istimewa yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga menyimpan cerita panjang tentang alam Kalimantan.


Enam Harta Karun Hijau yang Masih Bertahan di Hutan Kutai
Sebuah pohon ulin berumur lebih 1.000 tahun di Taman Nasional Kutai, Kaltim. ANTARA/Ahmad Rifandi

EKSPOSKALTIM, Kutai Timur - Di tengah bentangan hutan hujan tropis Kalimantan yang terus menghadapi berbagai tekanan, masih tersimpan kekayaan alam yang tak banyak diketahui publik.

Di kawasan Taman Nasional Kutai, sedikitnya enam flora penting terus dijaga kelestariannya karena menjadi bagian penting dari identitas sekaligus penopang kehidupan ekosistem Borneo.

Bagi sebagian orang, nama pasak bumi, ulin atau anggrek hitam mungkin tidak asing. Namun di alam liar, keberadaan tanaman-tanaman tersebut tidak lagi bisa dianggap aman. Karena itu, Balai Taman Nasional Kutai menempatkan perlindungan flora sebagai salah satu prioritas utama pengelolaan kawasan.

"Perlindungan habitat alami, pengendalian penebangan liar, serta program rehabilitasi hutan menjadi prioritas utama kami agar keberadaan tanaman khas ini tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan," kata Kepala Balai Taman Nasional Kutai, Syaiful Bahri, Sabtu.

Kawasan seluas 193.753,42 hektare tersebut menjadi rumah bagi sedikitnya 1.302 jenis flora dari 118 famili. Di antara ribuan jenis tumbuhan itu, terdapat enam flora yang mendapat perhatian khusus karena nilai ekologis, budaya, maupun manfaatnya bagi kehidupan manusia.

Yang pertama adalah pasak bumi (Eurycoma longifolia), tanaman herbal yang telah lama dikenal masyarakat Kalimantan. Akar tanaman ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional sehingga keberadaannya rentan terhadap eksploitasi berlebihan.

Untuk mengurangi tekanan terhadap populasi alami, pengelola kawasan kini mendorong upaya budidaya pasak bumi agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi tanpa harus terus mengambil dari hutan.

Selain itu terdapat pohon ulin (Eusideroxylon zwageri), yang kerap dijuluki kayu besi. Pohon ini menjadi salah satu simbol Kalimantan karena terkenal memiliki kayu yang sangat kuat dan tahan lama.

Namun popularitas tersebut justru membuat populasi ulin mengalami penurunan akibat penebangan yang berlangsung selama puluhan tahun untuk berbagai kebutuhan konstruksi.

Perhatian serupa diberikan kepada kelompok pohon meranti (Shorea spp). Pohon yang mendominasi hutan dataran rendah Kalimantan ini memiliki nilai ekonomi tinggi karena kualitas kayunya yang diminati pasar.

Padahal, keberadaan meranti tidak hanya penting bagi manusia. Tajuk-tajuk pohon besar tersebut juga menjadi tempat berlindung berbagai satwa liar, termasuk orangutan yang hidup di kawasan hutan Kutai.

"Langkah serupa diterapkan untuk memproteksi kelompok pohon meranti yang kayunya sangat diminati pasar, namun kini terancam alih fungsi lahan meski peranannya krusial sebagai tempat berlindung satwa endemik seperti orangutan," ujar Syaiful.

Di bagian lain hutan, tumbuh pohon bendang (Borassodendron borneense), palma endemik Kalimantan yang mudah dikenali dari bentuk daunnya yang menyerupai kipas raksasa.

Meski jarang dikenal masyarakat luas, pohon ini memiliki fungsi penting dalam rantai makanan alami. Buah yang dihasilkannya menjadi sumber pakan bagi sejumlah satwa liar penghuni hutan.

Tak kalah menarik adalah anggrek hitam (Coelogyne pandurata), salah satu ikon flora Kalimantan yang terkenal karena corak bibir bunganya yang berwarna gelap.

Tanaman epifit ini hidup menempel pada batang pohon besar dan sangat sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan. Sedikit perubahan pada kelembapan mikroklimat hutan dapat mengganggu pertumbuhannya.

Karena itu, patroli pengawasan rutin dilakukan untuk memastikan habitat anggrek hitam tetap terjaga.

Sementara di wilayah pesisir yang berbatasan dengan Selat Makassar, perhatian difokuskan pada ekosistem mangrove yang menjadi benteng alami kawasan pantai.

Hutan mangrove berperan menahan abrasi, menyerap karbon, sekaligus menjadi tempat berkembang biak berbagai jenis biota laut. Ancaman pencemaran dan perubahan kawasan pesisir membuat perlindungan vegetasi ini menjadi semakin penting.

Bagi pengelola Taman Nasional Kutai, menjaga flora tidak hanya berarti menyelamatkan satu jenis tumbuhan. Setiap pohon, akar, bunga, hingga vegetasi pesisir memiliki keterkaitan dengan kehidupan satwa dan manusia di sekitarnya.

Di tengah perubahan iklim dan tekanan terhadap hutan tropis, enam flora tersebut menjadi pengingat bahwa kekayaan alam Kalimantan tidak hanya hidup dalam cerita, tetapi masih tumbuh dan bertahan di jantung hutan Kutai.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :