PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Pasar Pagi Rp468 Miliar Disorot: Megah dari Luar, Rapor Merah di Dalam

Home Berita Pasar Pagi Rp468 Miliar D ...

Bangunan baru Pasar Pagi yang digadang menjadi motor ekonomi Samarinda justru menuai kritik keras. Di balik wajah modernnya, akademisi menyoroti sederet persoalan mulai dari tempias hujan, kapasitas parkir, hingga kualitas pembangunan. 


Pasar Pagi Rp468 Miliar Disorot: Megah dari Luar, Rapor Merah di Dalam
Suasana gedung baru Pasar Pagi Samarinda yang dibangun dengan anggaran sekitar Rp468,5 miliar. Pembangunan ulang pasar legendaris ini mendapat rapot merah dari pengamat ekonomi Unmul karena dinilai terlalu mendewakan estetika luar namun mengabaikan aspek kenyamanan, kapasitas parkir, hingga masalah teknis seperti tempias hujan. Ekspos/Sintya

EKSPOSKALTIM, Samarinda— Rencana strategis Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mendongkrak perekonomian daerah melalui pembangunan ulang Pasar Pagi menuai kritik menohok dari akademisi Universitas Mulawarman (Unmul) sekaligus Pengamat Ekonomi Kalimantan Timur, Purwadi Purwaharsojo.

Proyek megah yang awalnya digadang-gadang mampu menarik perputaran ekonomi lebih besar tersebut, dinilainya kontradiktif dengan realitas di lapangan. Purwadi memperingatkan publik agar tidak terkecoh oleh tampilan luar atau estetika bangunan semata.

"Menurut saya istilahnya jangan percaya cover buku," katanya pada EksposKaltim, Minggu (21/6/2026).

Menurut Purwadi, persoalan tempias hujan yang kini dikeluhkan pedagang seharusnya menjadi tanggung jawab pihak yang merencanakan dan membangun gedung tersebut. Ia bahkan menyebut persoalan yang muncul di Pasar Pagi sebagai bagian dari rapor merah perencanaan pembangunan infrastruktur di Kota Samarinda.

"Kalau boleh saya kritik lagi, ini gambaran rapor merah perencanaan terhadap pembangunan yang dilakukan," tegasnya.

Purwadi mencontohkan sejumlah proyek yang menurutnya masih menyisakan persoalan, mulai dari Teras Samarinda yang sempat menuai kritik terkait parkir, proyek tunnel (terowongan) yang hingga saat ini juga belum diresmikan, hingga kondisi sejumlah ruas jalan yang masih membutuhkan perhatian.

"Ini bagian dari perencanaan yang buruk dan kinerja buruk menurut saya ada di PUPR. Harus dievaluasi," katanya.

Ia menilai evaluasi terhadap proyek-proyek strategis perlu dilakukan secara menyeluruh, termasuk terhadap Pasar Pagi yang hingga kini masih menyisakan sejumlah persoalan pasca ditempati pedagang.

Selain tempias, Purwadi juga menyoroti aspek kenyamanan dan kapasitas fasilitas pendukung yang menurutnya belum memadai untuk menopang aktivitas ribuan pedagang dan pengunjung setiap hari.

Menurutnya, pasar bukan hanya soal bangunan yang terlihat modern, tetapi harus mampu memberikan kenyamanan bagi aktivitas jual beli.

"Di sana parkirnya itu untuk ratusan kendaraan. Sedangkan pedagangnya saja ribuan," kritiknya.

Ia menilai pendekatan estetika terlalu dominan dalam perencanaan sehingga aspek keselamatan dan kenyamanan pengguna bangunan justru terabaikan.

"Estetika itu luput. Publik tidak pernah tahu bangunan itu mampu menopang orang dan barang dalam jumlah kapasitas berapa," katanya.

Purwadi juga menyinggung munculnya kerusakan pada bagian pegangan tangga di lantai 7 bangunan yang sempat menjadi perhatian publik. Berdasarkan pantauan EksposKaltim di lapangan belum lama ini, kerusakan tersebut sudah diperbaiki.

"Artinya dari sisi kualitas. Itu dana besar lho. Tampilannya dari cover-nya keren. Tapi dalamnya ternyata begitu. Ditambah lagi itu belum dipotong pita sama Pak Wali Kota, belum diresmikan," ujarnya.

Di sisi lain, Purwadi mengakui bahwa lesunya aktivitas perdagangan di Pasar Pagi tidak hanya dipengaruhi kondisi bangunan, tetapi juga menurunnya daya beli masyarakat.
Menurutnya, dua faktor tersebut saling memperkuat dan membuat aktivitas ekonomi di pasar belum berkembang optimal.

Ia juga mempertanyakan kondisi masih adanya lapak kosong. Padahal sebelumnya pembagian kios yang dilakukan sempat berlangsung panjang dan memicu polemik.

"Ketika itu tidak ditangani serius nanti jadi aset mangkrak. Kasihan, itu uang APBD," ujarnya.

Menurut Purwadi bahwa pihak yang harus bertanggung jawab atas pembangunan senilai kurang lebih Rp468,5 miliar tersebut adalah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

"Mereka harus jelaskan ke publik kenapa bisa begitu. Pak Wali Kota harus evaluasi kontraktornya. Masih dalam hitungan bulan, tapi tempias. Ini kerupuk atau apa," tegasnya.

Menutup keterangannya, Purwadi mendesak lembaga auditor negara untuk segera melakukan investigasi menyeluruh terhadap proyek-proyek fisik di Samarinda, khususnya Pasar Pagi, sebelum umur bangunan berjalan lebih jauh. Langkah ini dirasa krusial demi menyelamatkan uang negara dan menjamin keselamatan publik.

"Kalau hujan deras, petir, tiba-tiba angin kencang, kan ada bangunan fisik yang harus dijaga, dan ada kerumunan manusia di dalamnya. Mumpung belum berumur panjang bangunan itu," pungkasnya.

 


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :