PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Karhutla Labanan Belum Padam, Skenario Evakuasi Orangutan Ambon Disiapkan

Home Berita Karhutla Labanan Belum Pa ...

Karhutla mengancam habitat orangutan Ambon di KHDTK Labanan, Berau. COP menyiapkan evakuasi darurat jika api terus mendekat dan kondisi tak lagi aman.


Karhutla Labanan Belum Padam, Skenario Evakuasi Orangutan Ambon Disiapkan
Personel COP Berau saat berusaha memadamkan api yang membakar KHDTK Labanan, Berau. (Foto : Dok. COP Berau)

EKSPOSKALTIM.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, mulai mengancam keselamatan Ambon, orangutan jantan berusia 32 tahun.

Centre for Orangutan Protection (COP) kini menyiapkan skenario evakuasi darurat untuk memindahkan Ambon ke pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) di Kampung Tasuk, Berau, jika kobaran api terus mendekat dan tak terkendali.

Manajer Komunikasi COP di Berau, Wahyuni, mengungkapkan bahwa karhutla di KHDTK Labanan pertama kali terdeteksi pada Sabtu (8/8/2026). Hingga saat ini, estimasi luas area yang hangus terbakar di kawasan tersebut mencapai 5 hektare.

"Kami sudah menyiapkan langkah antisipasi jika api semakin mendekati habitat Ambon. Evakuasi akan dilakukan ke BORA di Kampung Tasuk apabila kondisi di KHDTK Labanan tidak lagi aman," ujar perempuan yang akrab disapa Yuyun tersebut, Sabtu (15/8/2026).

Yuyun menjelaskan, COP telah menyiagakan perlengkapan evakuasi meliputi kandang angkut, jaring, peralatan bius, hingga personel khusus. Meski demikian, pihaknya tetap berharap evakuasi tidak perlu dilakukan.

"Kami berharap tidak sampai ke sana dan berdoa hujan segera turun. Hutan Labanan saat ini adalah tempat tinggal terbaik karena keanekaragaman hayatinya masih sangat terjaga," tutur Yuyun.

Ia menambahkan, KHDTK Labanan memiliki tutupan hutan yang lebat sehingga mampu menciptakan suhu mikro yang sejuk. Area ini juga menjadi benteng perlindungan terakhir bagi berbagai jenis satwa liar pasca-kerusakan habitat akibat aktivitas tambang ilegal.

Akses Sulit dan Kendala Air

Hingga Sabtu (15/8/2026), tim gabungan masih berupaya memadamkan sisa titik api yang mencakup area sekitar 1 hektare. Kondisi medan yang sulit dijangkau membuat proses pemadaman harus dilakukan secara manual.

"Hari ini tim fokus melakukan proses pendinginan (cooling down). Luasan yang terbakar di titik ini sekitar 1 hektare, tetapi aksesnya sangat sulit. Penggunaan alat jetshooter manual baru menjangkau sekitar 0,2 hektare," jelas Yuyun.

Selain akses geografis, ketersediaan air dan keterbatasan personel menjadi tantangan utama. Debit air embung di sekitar pusat rehabilitasi terus menyusut akibat kemarau panjang. Di saat yang sama, tim COP harus membagi kekuatan untuk membantu penanganan karhutla di wilayah Tumbit Melayu.

"Kami kekurangan personel dan harus berbagi peralatan. Kami sangat berharap bantuan relawan segera merapat agar tim di lapangan bisa bergantian beristirahat," ungkapnya.

Meski terkepung ancaman karhutla, Yuyun memastikan kondisi kesehatan Ambon yang menempati kawasan tersebut sejak April 2015 masih dalam keadaan baik. Program pelatihan bagi orangutan yang belum dilepasliarkan itu pun tetap berjalan.

BPBD Berau Catat 58 Hektare Terbakar

Secara terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau, Masyhadi Muhdi, mencatat total akumulasi area yang terbakar di wilayahnya telah mencapai sekitar 58 hektare per Sabtu (15/8/2026).

Ia menyebutkan, angka tersebut berasal dari laporan resmi yang masuk ke BPBD. Diperkirakan masih ada sejumlah titik kebakaran lain di lapangan yang belum terdata karena belum dilaporkan.

Karhutla dilaporkan melanda hampir seluruh kecamatan di Berau. Beberapa wilayah dengan catatan kejadian kebakaran tertinggi berada di kawasan daratan Pulau Derawan, Sambaliung, Teluk Bayur, Segah, dan Kelay.

"Seluruh lokasi kebakaran menjadi prioritas penanganan. Tim gabungan terus berupaya maksimal melakukan pemadaman di semua titik," tegas Masyhadi.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :