PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

ISPU Kutai Barat Capai 390, Dinkes Catat 1.504 Kasus ISPA

Home Berita Ispu Kutai Barat Capai 39 ...

Kualitas udara Kutai Barat berada pada kategori berbahaya saat ISPU mencapai 390, sementara Dinkes mencatat 1.504 kasus ISPA sejak Juni hingga September 2026.


ISPU Kutai Barat Capai 390, Dinkes Catat 1.504 Kasus ISPA
Kabut asap menyelimuti kawasan Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, Selasa (29/9/2026). ISPU di wilayah tersebut mencapai 390 dengan kategori berbahaya akibat karhutla. Foto: Dokumentasi Mardans

EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Kualitas udara di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, berada pada kategori berbahaya. Berdasarkan pantauan laman Kementerian Lingkungan Hidup, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di wilayah tersebut mencapai 390 pada Selasa (29/9/2026) sore.

Di tengah kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Kutai Barat mencatat 1.504 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sejak Juni hingga September 2026.

Kepala Dinas Kesehatan Kutai Barat, Barnabas, mengatakan jumlah kasus ISPA mengalami peningkatan cukup signifikan, terutama pada Agustus.

Namun, berdasarkan data yang dimilikinya, jumlah kasus yang tercatat pada September hingga pekan terakhir lebih rendah dibandingkan Agustus.

"Di bulan Juni itu 194, kemudian di bulan Juli 415, di Agustus itu 478, kemudian di September ini 417. Jadi total keseluruhan sampai dengan bulan September ini 1.504 kasus," ujar Barnabas, Selasa (29/9).

Barnabas menjelaskan angka tersebut merupakan kasus yang tercatat dari pasien yang datang berobat ke puskesmas. Data tersebut juga mencakup pelayanan melalui posyandu dan puskesmas keliling.

"Namun diperkirakan ada lebih banyak lagi yang tidak pergi berobat. Mungkin dia berobat sendiri, beli obat sendiri, atau menggunakan obat ramuan tersendiri yang dibuat masyarakat," ujarnya.

Menurut Barnabas, kasus ISPA di Kutai Barat sebenarnya mengalami tren yang fluktuatif. Ia mengatakan peningkatan kasus juga terjadi pada awal Januari, yang kemungkinan dipengaruhi kondisi cuaca saat itu.

"Justru yang di bulan Januari awal itu peningkatannya tinggi karena mungkin juga pengaruh cuaca pada saat itu, kan banjir, musim hujan sampai dengan Januari itu justru lebih tinggi," jelasnya.

Batuk hingga Sesak Napas

Barnabas menyebut sejumlah keluhan yang banyak ditemukan di masyarakat di tengah kondisi kabut asap, antara lain batuk, pilek, sesak napas, dan mata perih.

Ia menjelaskan paparan kabut asap dapat berdampak terhadap kesehatan karena mengandung zat hasil pembakaran. Paparan tersebut, kata dia, dapat menimbulkan gangguan kesehatan, salah satunya ISPA.

"Jika terhirup bisa menimbulkan penyakit, salah satunya ISPA, batuk, sesak napas. Kemudian dia juga berdampak kepada orang yang misalnya punya penyakit asma. Dia bisa memperberat. Selain itu juga orang dengan penyakit jantung, komorbid, kurang lebih seperti waktu Covid," paparnya.

Kelompok Rentan Diminta Hindari Asap Tebal

Barnabas mengimbau masyarakat, terutama bayi, balita, lanjut usia, serta orang yang memiliki penyakit seperti asma dan jantung, untuk menghindari aktivitas di luar rumah saat kondisi asap tebal.

"Diimbau kepada masyarakat untuk terutama bagi bayi, balita, orang dengan lanjut usia, kemudian orang-orang dengan penyakit yang tadi termasuk asma, jantung, diharapkan tidak keluar rumah pada saat kondisi asap yang tebal seperti sekarang ini," ujarnya.

Ia juga meminta masyarakat membatasi kegiatan di luar rumah dan menggunakan masker jika harus keluar. 

"Yang kita lihat sendiri secara langsung, memang harus dibatasi untuk kegiatan di luar rumah dan menggunakan masker kalau memang harus keluar rumah," pungkasnya


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :