PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

KESEDIHAN MENDALAM ATLET PANJAT TEBING, TERCURAH DIHARI KARTINI

Home Berita Kesedihan Mendalam Atlet ...

KESEDIHAN MENDALAM ATLET PANJAT TEBING, TERCURAH DIHARI KARTINI
Juskerina Atlet Pemanjat Tebing Bontang, Meneteskan Air matanya Saat Menceritakan Kisahnya Kepada Eksposkaltim.com

EKSPOSKALTIM, Bontang- Beraneka ragam harapan tercurah pada saat peringatan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April 2016 kemarin. Meski berbeda, namun harapan-harapan yang muncul pada hari Kartini itu, pada intinya memiliki kesaamaan. Sama-sama ingin berubah dari kondisi yang dialami saat ini menuju kepada kehidupan yang lebih.

Seperti halnya Juskerina atau yang akrab disapa Rina, Atlet Pemanjat Tebing kelahiran Bontang 4 Februari 1999 silam ini, memiliki kehidupan keluarga yang tak sebaik dengan perestasinya sebagai atlet panjat tebing yang pernah mewakili Indonesia berlaga di ajang International Federation of Sport Climbing (IFSC) World Youth Climbing Championships di Italia pada Agustus 2015 lalu.

Kedua orang tuanya sudah lama pisah (tidak akur), saat ini bapak kandungnya tinggal di Sangkulirang Kutai Timur, dan Ibu kandungnya juga sudah lama merantau ke Papua bersama kakak keduanya.

“Kedua orang tua saya sudah lama pisah, Kalau kakak yang pertama kerja di samarinda, terus yang ke tiga kuliah di samarinda” ujarnya Rina dengan raut wajah sedih, saat di temui di sela-sela Acara Peringatan hari Kartini di Jalan Awang Long, Kelurahan Bontang Baru, Kecamatan Bontang Utara, Kamis (21/4/2016).

Banyak cerita sedih ia sampaikan di hari Kartini itu, tanpa canggung ataupun malu Rina berbagi kesedihan dengan beberapa awak media, termasuk dengan eksposkaltim. Mengenai apa yang ia rasakan sejak masih duduk dibangku kelas tiga sekolah dasar, hingga saat ini,

Anak bungsu dari 4 bersaudara putri dari pasangan Muhammad Anas dan Sakka ini, mengaku bahwa dirinya dilanda kesepian dan haus akan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Saat yang paling buat ia sedih, kata Rina, dimana ia pulang dari sekolah ataupun latihan panjat tebing, tak satupun keluarga yang ia temui dirumah.

“Saya sekarang tinggal di Asrama Rudal. Saya pernah ngomong sama ibu biar kembali lagi ke Bontang, tapi ibu bilang mau tinggal dimana kalau balik. Saya cuman bisa menangis dirumah, bahkan kalau di sekolah saya berusaha tidak memperlihatkan kesedihan saya kepada orang lain, cukup Tuhan saja yang mengetahui,” Kata Rina dengan mata berkaca-kaca.

Rina telah berusaha untuk mempersatukan kembali ke dua orang tuanya yang telah lama berpisah. Kendati usahanya itu belum bisa tercapai, namun Rina tak pernah putus asa.

“saya sudah pernah ngomong sama Ibu biar mereka berdua bisa bersatu lagi. Tapi susah, satunya egois, yang satunya lagi bilang untuk apa, jadi saya bingung. Padahal mereka tidak tau kalau keinginan terbesar saya bisa mempersatukan mereka,” bebernya.

Diperingatan hari Kartini itu, Rina meluapkan semua kesedihan yang dialaminya saat ini hingga tak sadar air matanya pun jatuh membasahi pipi.

Seuntai harapan agar orang tua dan saudara-saudaranya bisa bersatu seperti dulu, terucap dari lubuk hatinya yang paling dalam seakan tersirat bahwa itu adalah doa yang sering dipanjatkannya saat ini.

“Saya mohon kepada Ibu dan Bapak, saya tidak butuh uang saja, tapi yang saya butuhkan adalah bagaimana caranya kalian bisa bersatu kembali, kalian yang melahirkan saya ke dunia ini tapi setelah saya lahir justru kalian meninggalkan saya begitu saja. Saya juga manusia, saya punya hati, saya merindukan kalian semua untuk kembali. Kenapa kalian tidak pernah memikirkan perasaan saya sedikit pun,” harapnya.


Editor : Maulana
Tags : \\

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :