EKSPOSKALTIM, Samarinda - Pasang-surut ekonomi global beberapa tahun terakhir sedikit banyak mempengaruhi kondisi tanah air.
Di Kaltim, sektor ekonomi masih ditopang sektor sumber daya alam (SDA) tidak terbarukan, seperti migas dan batu bara. Pendapatan daerah pun kini ikut merasakan imbas dari kelesuan dua sektor tersebut.
Juru Bicara Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPRD Kaltim, Slamet Ari Wibowo, berharap Pemprov dapat segera mencari solusi atas hal ini.
"Jangan jadikan alasan untuk kita semua. Itu prinsip yang harus kita jalani," kata anggota Komisi IV Rakyat DRPD Kaltim ini.
Dalam nota laporan APBD 2017, diketahui komoditas andalan yaitu batu bara menurun tajam sejak tiga tahun terakhir. Hal ini terlihat dari APBD tahun sebelumnya.
Ia menunjukkan bukti dampak atas penurunan penerimaan sektor migas tersebut yang mempengaruhi belanja daerah.
Pada 2016 total APBD Kaltim yang pernah disahkan sebesar Rp 11 Triliun setelah mengalami perubahan turun menjadi Rp 9 triliun.
"Mengalami penurunan sekitar Rp 1,7 triliun dari total APBD murni," ujarnya.
Sedangkan pada APBD Perubahan 2016 semula ditetapkan sebesar Rp 10,29 triliun menurun pada menjadi Rp 8,68 triliun. Jumlah penurunannya sebesar Rp 1,6 triliun.
Sementara diketahui rancangan APBD Perubahan 2017 tahun ini secara keseluruhan bertambah sebesar Rp 722 miliar. Sehingga APBD 2017 semula sebesar Rp 8,98 triliun menjadi Rp 8,820 Triliun.
"Kondisi seperti ini seharusnya pemerintah punya solusi dengan analisis yang tajam dan sektor mana saja yang dapat digenjot untuk meningkatkan pendapatan. Bukan malah menurun," pungkasnya.
Melihat fakta tersebut, mewakili Fraksi PKB, ia mengaku sangat kecewa dengan belum optimalnya pemerintah dalam menggali potensi-potensi pendapatan asli daerah (PAD).
"Yang hari ini kita dihadapkan pada permasalahan defisit anggaran," tutupnya. (adv)

