Pasar Pagi merupakan salah satu pusat perdagangan bersejarah di Samarinda
EKSPOSKALTIM, Samarinda – Revitalisasi fisik Pasar Pagi Samarinda boleh mendekati garis akhir, tetapi pekerjaan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda belum selesai. Pemkot harus memastikan gedung anyar tersebut benar-benar hidup sebagai pusat perdagangan.
Total lapak di Pasar Pagi mencapai 2.586 lapak. Pemberitaan sebelumnya, masih terdapat lebih dari 1.000 lapak yang belum terisi atau belum aktif digunakan untuk berjualan.
Hingga menjelang batas waktu aktivasi pedagang pada 31 Agustus 2026, Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda kini mencatat sekitar 700 lebih pedagang yang menyatakan keinginan untuk masuk dan berjualan di Pasar Pagi.
Namun pemerintah juga masih harus memastikan pedagang yang telah memperoleh lapak benar-benar menggunakannya untuk berdagang. Karena itu, batas 31 Agustus mendatang menjadi titik evaluasi penting sebelum Pemkot menentukan langkah berikutnya.
Kepala Disdag Samarinda, Nurrahmani, mengatakan pihaknya akan menggelar rapat sebelum batas waktu tersebut untuk menentukan kebijakan lanjutan. Evaluasi tidak hanya mempertimbangkan persoalan administrasi pedagang, tetapi juga kondisi ekonomi yang tengah berlangsung.
“Kami akan rapat sebaiknya seperti apa. Kita harus memperhatikan juga kondisi ekonomi dan lain-lain. Hasil dari tim itulah yang akan kita jalankan,” ujar Yama, sapaan akrabnya.
Menurut Yama, tim evaluasi telah mulai dibentuk dan kini tinggal menunggu pengajuan kepada Wali Kota Samarinda untuk mendapatkan pengesahan.
Tim tersebut nantinya tidak hanya berasal dari Disdag. Satpol PP, Inspektorat, bagian hukum dan sejumlah unsur lain akan dilibatkan untuk memberikan pandangan sebelum pemerintah mengambil tindakan terhadap lapak-lapak yang belum aktif.
Bagi Pemkot Samarinda, persoalan Pasar Pagi kini tidak cukup diselesaikan dengan menghitung berapa banyak kios yang telah memiliki pemegang.
Yang menjadi persoalan adalah berapa banyak lapak yang benar-benar menghasilkan aktivitas perdagangan.
Sebab, jika lapak telah dibagikan tetapi tidak digunakan, maka revitalisasi Pasar Pagi berisiko berhenti pada keberhasilan fisik semata. Gedung terisi di atas kertas, tetapi denyut ekonomi di dalamnya belum tentu terbentuk.
Yama mengatakan sekitar 700 pedagang saat ini masih menyatakan keinginan untuk masuk. Data tersebut akan menjadi salah satu bahan evaluasi setelah batas waktu 31 Agustus.
Ia menegaskan pemerintah memang memiliki SOP dalam menata pedagang. Namun, sebelum tindakan dilakukan, pemerintah tetap akan melihat kondisi di lapangan dan mendengarkan masukan dari lintas instansi.
Menurutnya, Disdag tidak bisa mengambil keputusan sendiri karena persoalan Pasar Pagi menyangkut banyak aspek, mulai dari administrasi hingga penertiban di lapangan.
Namun pemerintah juga membutuhkan batas waktu agar persoalan tersebut tidak berlarut-larut.
“Makanya bilang perkembangan ekonomi ini juga harus diperhatikan. Cuma kan kalau nggak ada sinyal dari 31 Agustus nggak selesai selesai,” ujarnya.
Sebagai informasi, Pasar Pagi merupakan salah satu pusat perdagangan bersejarah di Samarinda. Kawasan ini kemudian direvitalisasi dan dibangun kembali menjadi gedung pasar modern sebagai bagian dari penataan kawasan pusat kota.
Gedung baru Pasar Pagi mulai ditempati pedagang secara bertahap sejak awal 2026. Namun, setelah persoalan pembangunan bergeser ke tahap pengisian lapak, pemerintah menghadapi persoalan baru yakni bagaimana membuat masyarakat kembali datang dan berbelanja.
Karena itu, Disdag mulai menyiapkan strategi untuk mendatangkan pengunjung. Salah satunya melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan atau event yang diharapkan mampu menciptakan arus pengunjung ke kawasan Pasar Pagi.
Yama mengatakan rencana tersebut telah dibicarakan dengan pihak pengelola. Bahkan, muncul gagasan agar kegiatan digelar secara rutin.
Salah satu agenda yang disiapkan adalah pasar murah. Namun, kegiatan tersebut tidak akan dilakukan terlalu sering karena pemerintah juga harus mempertimbangkan kondisi pedagang yang tidak mungkin terus-menerus dipaksa menjual dengan margin rendah.
“Itu akan kami lakukan dalam waktu dekat ini. Tapi kalau pasar murah kita paling sampai 3-4 kali setahun,” ujarnya.
Konsep event juga tidak boleh salah arah.
Disdag ingin kegiatan yang digelar justru menjadi magnet bagi Pasar Pagi, bukan menciptakan pusat perdagangan baru di luar gedung yang akhirnya membuat pedagang di dalam kembali kehilangan pembeli.
Karena itu, Yama menegaskan aktivitas jual beli dalam event sebisa mungkin tetap melibatkan pedagang Pasar Pagi.
“Terkait event kami minta tetap orang pasar dalam. Kita kan maunya pedagang yang menikmati itu,” katanya.
Untuk pasar murah sekalipun, Disdag akan melihat terlebih dahulu komoditas yang sudah dijual pedagang di dalam pasar. Pemerintah tidak ingin kegiatan tersebut justru membuat pedagang Pasar Pagi bersaing dengan pemerintah sendiri. Lokasi event juga akan dikondisikan agar tidak mengganggu aktivitas perdagangan.
“Itu yang kita mau kondisikan,” pungkasnya



