Fenomena cuaca yang terjadi di Balikpapan dalam beberapa hari terakhir menghadirkan dua dampak sekaligus.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan — Di tengah menguatnya angin selatan, BPBD Balikpapan menghadapi dua laporan sekaligus dari masyarakat. Selain gelombang yang meninggi di kawasan pantai, warga juga melaporkan kemunculan partikel debu halus yang ditemukan di permukiman dan kini masih dalam pemantauan pemerintah.
Kepala BPBD Balikpapan Usman Ali mengatakan pihaknya terus mengingatkan masyarakat pesisir, nelayan, pemancing, maupun pengunjung pantai agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak angin selatan yang masih melanda wilayah setempat.
Menurut dia, peningkatan kecepatan angin dalam beberapa hari terakhir menyebabkan gelombang di sejumlah kawasan pantai terlihat lebih besar dibandingkan kondisi normal.
“Kalau angin selatan ini kami terus mengimbau para nelayan, pemancing dan warga yang membawa keluarganya ke pantai untuk tetap berhati-hati,” kata Usman, ditulis Senin 929/6).
Ia menegaskan masyarakat masih dapat beraktivitas di kawasan wisata pantai, namun pengawasan terhadap anak-anak perlu diperketat mengingat gelombang sewaktu-waktu dapat menghantam area pesisir.
“Silakan saja ke pantai, tetapi tetap diawasi. Ombak besar bisa menggulung, terutama anak-anak yang bermain terlalu dekat dengan air,” ujarnya.
Berdasarkan prakiraan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, kecepatan angin pada Selasa (23/6/2026) mencapai sekitar 22 kilometer per jam. Sementara pada Rabu (24/6/2026), kecepatan angin diperkirakan masih berada di kisaran 18 kilometer per jam.
Selain angin yang cukup kencang, kondisi cuaca di Balikpapan dalam beberapa hari terakhir didominasi berawan hingga berawan tebal dengan tingkat kelembapan udara berkisar antara 71 hingga 99 persen. Suhu udara berada pada rentang 24 hingga 30 derajat Celsius.
Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan tinggi gelombang di sejumlah titik pesisir mencapai sekitar dua meter.
“Kalau di lapangan yang terlihat kurang lebih sekitar dua meter. Karena kecepatan angin juga cukup berpengaruh sehingga ombak terlihat besar,” ujar Usman.
BPBD juga meminta nelayan dan pemancing memperhatikan perkembangan cuaca sebelum melaut. Jika kecepatan angin meningkat atau kondisi perairan memburuk, masyarakat diimbau menunda aktivitas demi keselamatan.
“Yang terpenting masyarakat tetap waspada dan mengutamakan keselamatan,” katanya.
Di sisi lain, BPBD Balikpapan juga menindaklanjuti laporan masyarakat terkait sebaran partikel debu halus yang ditemukan di sejumlah kawasan permukiman, terutama di Kelurahan Karangjati dan Karangrejo.
Fenomena yang oleh warga disebut sebagai hujan debu itu ramai diperbincangkan setelah partikel berwarna krem hingga putih tulang ditemukan menempel pada kendaraan, atap rumah, dan halaman permukiman.
Usman mengatakan pihaknya telah menerima laporan warga dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan kondisi di lapangan.
“Untuk pihak yang bersangkutan kemarin sudah siap. Kami juga sudah koordinasi dan melihat mereka menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan,” ujarnya.
Menurut dia, laporan yang diterima BPBD paling banyak berasal dari Kelurahan Karangjati, disusul sejumlah laporan dari kawasan Karangrejo.
Meski informasi yang beredar di masyarakat mengaitkan fenomena tersebut dengan aktivitas operasional kilang, BPBD belum dapat memastikan sumber partikel yang ditemukan warga.
“Kalau sementara saya menganggapnya debu. Partikel-partikel kecil. Memang terasa mengganggu, terutama kalau masuk ke mata,” kata Usman.
BPBD terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memantau perkembangan di lapangan. Selain itu, kondisi cuaca dan arah angin juga menjadi perhatian karena dinilai dapat memengaruhi penyebaran partikel menuju kawasan permukiman.
“Kalau angin bergerak ke arah permukiman tentu penyebarannya bisa lebih terasa. Karena itu kondisi cuaca dan arah angin juga terus kami perhatikan,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan kondisi serupa agar dapat ditindaklanjuti lebih cepat oleh pemerintah.
“Kalau ada kejadian seperti ini, paling tidak masyarakat melaporkan situasinya ke RT dan kelurahan supaya bisa ditindaklanjuti. Warga juga punya kewajiban menjaga lingkungan tetap aman,” pungkasnya. (ant)




