EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Kementerian ESDM menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode pertama Desember 2025 mayoritas naik. Satu-satunya yang turun, seperti dikutip dari ANTARA, adalah batu bara kalori tinggi, dari 102,03 dolar AS per ton pada periode kedua November menjadi 98,26 dolar AS per ton.
Harga batu bara di pasar internasional juga ambruk setelah sempat menguat akhir pekan lalu. Berdasarkan Refinitiv, seperti dikutip dari CNBC, kontrak Januari pada perdagangan Senin (1/12/2025) ditutup di 109,50 dolar AS per ton atau turun 1,22 persen, berbalik dari kenaikan 1,1 persen pada Jumat.
Pelemahan terjadi di tengah rangkaian kabar buruk. Pasar batu bara termal “mine-mouth” di China kembali terkoreksi setelah sempat berada di level lebih tinggi. Minat beli melemah, sementara pembeli akhir seperti utilitas dan pembangkit lebih berhati-hati meski ada dukungan dari sektor non-listrik.
https://eksposkaltim.com/berita-15776-ekonomi-kaltim-2026-diprediksi-tancap-gas-apa-pemicunya.html
Permintaan turun karena stok cukup atau kebutuhan listrik melemah. Prospek permintaan yang suram membuat pembeli menahan transaksi besar. Pasokan domestik yang berlimpah juga menekan daya tarik impor dan mendorong harga turun di pasar lokal.
Sebagai konsumen utama batu bara dunia, pelemahan harga domestik di China memberi tekanan lanjutan pada pasar internasional. Permintaan impor berpotensi menurun bila harga lokal tetap kompetitif atau utilitas menunda pembelian.
Pada akhir Oktober 2025, sejumlah tambang di China memangkas harga jual sebagai respons terhadap lemahnya permintaan hilir.
Dari India, Coal India melaporkan produksi 67,2 juta ton pada November, naik 1,2 persen secara tahunan. Namun sepanjang April–November 2025, total produksi justru turun 3,7 persen menjadi 453,5 juta ton dibanding 471 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dua anak usaha, Northern Coalfields Ltd (NCL) dan South Eastern Coalfields Ltd (SECL), mencatat kenaikan produksi pada delapan bulan pertama tahun fiskal 2026. Sebaliknya, Bharat Coking Coal (BCCL) dan Central Coalfields (CCL) mengalami penurunan masing-masing 16,3 persen dan 14,1 persen.

