Di tengah meningkatnya kasus karhutla dan ancaman krisis air bersih, BMKG mencatat wilayah Paser bahkan telah 39 hari berturut-turut tanpa hujan.
EKSPOSKALTIM, Samarinda – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda memprakirakan sebagian besar wilayah Kalimantan Timur masih didominasi curah hujan kategori rendah pada periode 1–10 September 2026.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto Samarinda, Riza Arian Noor, mengatakan secara umum curah hujan pada Dasarian I September diprediksi berada pada rentang 0–50 milimeter (mm).
“Deterministik curah hujan pada Dasarian I September 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah Kaltim diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0–50 mm,” kata Riza, Selasa (1/9).
Meski demikian, peluang terjadinya hujan di wilayah Kaltim masih tergolong tinggi, dengan probabilitas di atas 90 persen. Namun intensitas hujan yang turun diperkirakan berada pada kategori bawah normal.
BMKG mencatat hanya sebagian kecil wilayah Kabupaten Mahakam Ulu dan Kutai Barat yang masih berpotensi mengalami hujan lokal atau hujan singkat.
Kondisi cuaca kering tersebut sejalan dengan meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dalam beberapa pekan terakhir terjadi di sejumlah daerah di Kaltim.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Samarinda menetapkan status tanggap darurat kekeringan selama 14 hari akibat kombinasi ancaman intrusi air laut di Sungai Mahakam, menurunnya pasokan air baku, serta meningkatnya kebakaran lahan yang telah menghanguskan lebih dari 194 hektare area.
Di sisi lain, kabut asap akibat karhutla di Kalimantan Selatan juga mulai melintas hingga ke langit Balikpapan. Dinas Kesehatan Balikpapan bahkan telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan terhadap peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
BMKG juga mencatat kondisi Hari Tanpa Hujan (HTH) di sejumlah wilayah Kaltim berada pada kategori sangat pendek hingga sangat panjang.
Wilayah dengan durasi HTH terpanjang saat ini tercatat berada di Batu Enggau, Kabupaten Paser, yang telah mengalami 39 hari berturut-turut tanpa hujan.
Menurut Riza, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena berpotensi menurunkan ketersediaan air bersih sekaligus meningkatkan kemunculan titik panas.
“Masyarakat dan pelaku sektor pertanian diharapkan menghemat penggunaan air serta menghindari aktivitas pembakaran lahan guna mencegah kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.
BMKG mengimbau masyarakat tetap memantau perkembangan informasi cuaca dan peringatan dini, terutama di wilayah yang saat ini sedang menghadapi musim kemarau dan risiko karhutla yang meningkat. (ant)


