EKSPOSKALTIM, Berau – Laut di sekitar Pulau Derawan tak selalu ramai oleh kapal wisata atau penyelam. Pada musim tertentu, hamparan perairan biru di pesisir Berau justru dipenuhi nelayan yang turun beramai-ramai membawa pukat tradisional untuk menangkap ikan tuna.
Tradisi itu dikenal warga setempat dengan sebutan “sobat”.
Aktivitas memukat ikan tersebut masih terus dipertahankan oleh kelompok nelayan pesisir hingga sekarang. Selain menjadi sumber penghasilan warga, tradisi itu perlahan berkembang menjadi tontonan yang menarik perhatian wisatawan.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan tradisi “sobat” memiliki nilai lebih dari sekadar aktivitas menangkap ikan.
“Aktivitas memukat ikan yang masih dilakukan secara tradisional ini tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi potensi wisata budaya dan wisata bahari,” ujarnya di Tanjung Redeb, Rabu (20/5).
Tradisi ini biasanya berlangsung mulai Maret hingga Oktober, menyesuaikan musim saat ikan tuna banyak mendekat ke kawasan Pulau Derawan.
Di momen tersebut, nelayan akan turun ke laut menggunakan pukat sederhana secara berkelompok. Gerakan menarik jaring bersama-sama di tengah laut dangkal dengan latar pasir putih dan air jernih menjadi pemandangan khas yang sulit ditemukan di daerah lain.
Bagi wisatawan, seperti mengutio antara, pengalaman menyaksikan langsung kehidupan nelayan pesisir itu justru menjadi daya tarik tersendiri.
Menurut Gamalis, tradisi seperti ini penting dijaga karena menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir Derawan, termasuk budaya melaut warga Suku Bajau yang selama ini hidup berdampingan dengan laut.
Ia menilai sektor perikanan dan pariwisata di Berau sebenarnya dapat tumbuh beriringan tanpa harus saling menggeser.
“Tradisi masyarakat pesisir seperti ini memperlihatkan kehidupan asli warga Derawan dan justru bisa memperkuat citra wisata daerah,” katanya.
Potensi itu terlihat dari terus meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Derawan. Sepanjang 2025, jumlah wisatawan tercatat mencapai 45.274 orang atau naik sekitar 32,5 persen dibanding tahun sebelumnya.
Mayoritas berasal dari wisatawan nusantara, sementara ribuan lainnya datang dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, hingga sejumlah negara Eropa.
Pekan lalu, Gamalis bahkan ikut turun langsung bersama nelayan memukat ikan tuna di kawasan Gusung Sanggalau, Pulau Derawan.
Di sela aktivitas tersebut, ia mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem laut agar tradisi “sobat” dan potensi wisata bahari tetap bertahan dalam jangka panjang.
“Kalau laut tetap dijaga, hasil tangkapan nelayan tetap ada dan wisata juga bisa terus hidup,” ujarnya.



