Pemkot Bontang menyatakan siap memberikan karpet merah untuk investor industri pengalengan ikan.
EKSPOSKALTIM, Bontang - Melimpahnya produksi ikan dari Selat Makassar mendorong Pemerintah Kota Bontang membuka peluang masuknya industri pengalengan ikan. Pemerintah daerah menyiapkan dukungan infrastruktur dan regulasi untuk mempercepat investasi di sektor tersebut.
Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris menyatakan pemerintah siap menyambut investor yang berminat masuk ke sektor pengalengan ikan di daerahnya.
“Kami siap menyambut dengan karpet merah kepada calon investor yang masuk ke Bontang. Potensi industri manufaktur pengalengan ikan menjadi salah satu pilihan berinvestasi di Provinsi Kalimantan Timur, terutama di Bontang,” kata Agus Haris di Bontang, Rabu (20/5).
Pemerintah Kota Bontang menilai sektor industri pengalengan ikan sebagai salah satu motor baru penggerak ekonomi daerah. Pengembangan sektor ini disebut didukung oleh kesiapan infrastruktur hukum serta komitmen birokrasi untuk mempercepat masuknya investasi, baik domestik maupun asing.
Pemkot, seperti dikutip dari antara, juga memastikan tidak akan ada hambatan birokrasi yang menghalangi proses investasi.
Berdasarkan kajian Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalimantan Timur bersama DPMPTSP Kota Bontang, terdapat empat faktor utama yang menjadikan Bontang lokasi potensial untuk hilirisasi perikanan.
Pertama, ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan dari hasil tangkapan laut yang melimpah sepanjang tahun. Kedua, dukungan infrastruktur berupa Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) yang dinilai representatif.
Ketiga, kesesuaian tata ruang wilayah yang memungkinkan pengembangan kawasan industri manufaktur. Keempat, regulasi daerah yang dinilai berpihak pada investasi dengan memberikan kepastian hukum dan kemudahan usaha.
Kepala DPMPTSP Kota Bontang Muhammad Aspian Nur menegaskan kesiapan daerah tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga dalam pendampingan investasi secara menyeluruh.
“Kami di DPMPTSP Bontang tidak hanya membuka pintu, tapi juga memastikan kenyamanan berinvestasi. Sektor ketahanan pangan dan perikanan adalah prioritas utama kami,” ujarnya.
Melalui Perda Nomor 1 Tahun 2017, pemerintah daerah memberikan kepastian hukum, insentif fiskal, serta penyederhanaan proses perizinan untuk mendorong percepatan hilirisasi perikanan.
Secara geografis, wilayah laut Bontang disebut jauh lebih luas dibandingkan wilayah daratannya, dengan total mencapai 497,57 km².
Data DPMPTSP menunjukkan produksi perikanan di Bontang cukup besar, dengan perikanan tangkap mencapai 20.335,99 ton per tahun yang melibatkan 3.181 rumah tangga perikanan.
Sementara itu, perikanan budidaya tercatat sebesar 4.453,04 ton yang melibatkan 351 rumah tangga pembudidaya. Komoditas utama didominasi ikan cakalang, tongkol, dan tuna dengan tren produksi yang terus meningkat.
Dari sisi kajian investasi, studi kelayakan teknis dan finansial untuk rencana industri pengalengan ikan cakalang menunjukkan proyek ini memiliki prospek ekonomi yang dinilai menarik bagi investor.
Beberapa indikator kelayakan mencatat Net Present Value (NPV) tahun ke-5 sebesar Rp3,33 miliar, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 56,01 persen, serta Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) sebesar 1,6.
Selain itu, Payback Period tercatat selama 4 tahun 4 bulan 9 hari, dengan titik impas (BEP) unit sebesar 549.653 kaleng dan BEP rupiah mencapai Rp5,49 miliar per tahun.
Pemerintah Kota Bontang menyatakan optimistis pengembangan industri pengalengan ikan dapat mendorong transformasi ekonomi daerah dari sektor primer ke hilirisasi bernilai tambah tinggi yang lebih kompetitif di pasar nasional maupun internasional.



