Balikpapan, EKSPOSKALTIM – Laut yang dulu jadi sumber kehidupan nelayan, kini perlahan terasa asing. Di perairan Balikpapan, aktivitas bongkar muat batu bara kian meresahkan. Tak hanya diduga mencemari laut, zona pelabuhan yang makin luas juga mempersempit ruang tangkap nelayan.
Ketua Gabungan Nelayan Balikpapan (Ganeba), Fadlan, angkat suara soal kondisi ini. Ia menyebut hasil tangkapan terus menurun sejak aktivitas bongkar muat batu bara meningkat. “Setiap kali kapal bongkar muat, batu baranya kerap tercecer ke laut. Itu merusak alat tangkap kami dan mencemari ikan serta udang,” ujarnya, Ahad (4/8).
Tak cuma soal pencemaran. Padatnya lalu lintas kapal juga menyulitkan nelayan. Laut yang dulu bebas dilayari, kini dipetak-petak jadi zona pelabuhan dan zona nelayan. “Kalau kami mau melaut lebih jauh, kadang takut ada ranjau laut, ban bekas, sampah besi, atau material lain yang jatuh dari kapal. Laut makin kotor,” keluhnya.
Dampaknya terasa nyata. Jumlah tangkapan berkurang, kualitas hasil laut pun menurun. Banyak ikan dan udang yang rusak, patah, bahkan tak layak konsumsi. Nilai jualnya jatuh.
Masalah ini tak didiamkan begitu saja. Fadlan bersama Pokja Pesisir dan para nelayan pernah menggugat keputusan Kementerian Perhubungan ke PTUN Jakarta pada akhir 2024. Gugatan itu menolak rencana perluasan zona bongkar muat batu bara ke wilayah tangkap nelayan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah provinsi.
“Wilayah itu seharusnya jadi zona tangkap nelayan. Sudah sempit, mau diambil lagi. Kami anggap itu pelanggaran. Maka kami berani menggugat,” tegasnya. "Yang sudah dikasih, mau dirampas lagi. Kami hadirkan bukti dan saksi. Alhamdulillah, kami menang di pengadilan."
Sebelum laut dipersempit, nelayan bisa melaut hingga 20 hari dalam sebulan di satu area. Kini, area yang sama habis dalam tiga sampai empat hari saja. Fadlan berharap tak ada lagi aktivitas bongkar muat batu bara di wilayah tangkap nelayan. “Kami cuma ingin laut tetap jadi tempat kami mencari nafkah. Sekarang nelayan sudah menjerit, jangan biarkan ruang hidup kami terus tergerus,” pungkasnya.

