Harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) kembali bergerak naik. Setelah sempat terkoreksi, emas Antam merangkak naik Rp7.000 per gram pada Sabtu (24/1), menegaskan bahwa pasar emas masih berada dalam fase fluktuasi tinggi di tengah ketidakpastian global.
EKSPOSKALITM, Jakarta - Harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) yang dipantau dari laman resmi Logam Mulia, Sabtu (24/1), tercatat mengalami kenaikan Rp7.000. Dari sebelumnya Rp2.880.000 menjadi Rp2.887.000 per gram.
Seiring kenaikan harga jual, nilai jual kembali (buyback) juga ikut menguat Rp7.000 ke level Rp2.722.000 per gram, dari sebelumnya Rp2.715.000 per gram. Meski menguat tipis, transaksi emas tetap dibayangi kewajiban pajak.
Sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34/PMK.10/2017, setiap penjualan kembali emas batangan ke PT Antam Tbk dengan nilai di atas Rp10 juta dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 1,5 persen bagi pemegang NPWP dan 3 persen untuk non-NPWP. Pajak tersebut dipotong langsung dari total nilai buyback.
Sementara itu, untuk pembelian emas batangan, PPh Pasal 22 dipatok sebesar 0,45 persen bagi pemilik NPWP dan 0,9 persen untuk non-NPWP. Setiap transaksi pembelian disertai bukti potong pajak resmi.
Berdasarkan laman Logam Mulia Antam, berikut daftar harga emas batangan per Sabtu (24/1):
0,5 gram: Rp1.493.500
1 gram: Rp2.887.000
2 gram: Rp5.714.000
3 gram: Rp8.546.000
https://eksposkaltim.com/berita-16109-harga-emas-turun-sinyal-cemas-pasar-tak-padam.html
5 gram: Rp14.210.000
10 gram: Rp28.365.000
25 gram: Rp70.787.000
50 gram: Rp141.495.000
100 gram: Rp282.912.000
250 gram: Rp707.015.000
500 gram: Rp1.413.820.000
1.000 gram: Rp2.827.600.000
Kenaikan tipis harga emas Antam ini terjadi di tengah dinamika pasar yang belum stabil. Sebelumnya, harga emas Antam sempat terkoreksi Rp15.000 per gram pada Kamis (23/1), setelah sehari sebelumnya melonjak tajam dan memicu euforia pasar.
Di sisi lain, harga emas di Pegadaian justru melesat signifikan. Produk UBS bahkan mendekati level psikologis Rp3 juta per gram, mencerminkan derasnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah tekanan global dan ketidakpastian nilai tukar.

