PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Hujan Debu di Balikpapan, Dinkes Kaltim Waspadai Lonjakan ISPA

Home Berita Hujan Debu Di Balikpapan, ...

Keluhan tenggorokan gatal akibat hujan debu di Balikpapan kini mulai mendapat perhatian Dinas Kesehatan Kalimantan Timur.


Hujan Debu di Balikpapan, Dinkes Kaltim Waspadai Lonjakan ISPA
Salah seorang warga RT 61 Kelurahan Karang Rejo, Balikpapan Tengah, menunjukkan butiran debu cokelat yang menyelimuti teras rumahnya, Selasa (23/6/2026). Foto: Ekspos Kaltim

EKSPOSKALTIM, Samarinda– Fenomena hujan debu yang menyelimuti sejumlah kawasan di Balikpapan baru-baru ini tak hanya menjadi perhatian dari sisi lingkungan hidup.

Di tengah temuan awal yang mengindikasikan debu berasal dari aktivitas operasional kilang baru Pertamina, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menyiapkan mekanisme pemantauan untuk mendeteksi kemungkinan munculnya dampak kesehatan di masyarakat.

Meski hingga saat ini belum terdapat laporan peningkatan kasus penyakit yang dikaitkan langsung dengan fenomena tersebut, Dinkes Kaltim menegaskan tidak akan menunggu hingga dampaknya meluas.

Pemantauan terhadap kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan gangguan kesehatan lainnya menjadi instrumen utama untuk membaca apakah debu yang dikeluhkan warga benar-benar berpengaruh terhadap kesehatan publik.

Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, menjelaskan bahwa kewenangan utama terkait kesehatan lingkungan berada pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Namun apabila muncul keluhan kesehatan dari masyarakat, pihaknya akan melakukan penelusuran lebih lanjut.

"Kami kalau nanti banyak pasien yang datang dengan keluhan misalnya ISPA, itu kita akan lakukan pemeriksaan apakah memang dari debu itu atau bukan," ujarnya saat dikonfirmasi EksposKaltim, Rabu (24/6/2026).

Jaya mengungkapkan Dinkes Kaltim memiliki sistem pemantauan kesehatan lingkungan yang dapat digunakan untuk melihat apakah suatu fenomena lingkungan berpengaruh terhadap kondisi kesehatan masyarakat.

Karena itu, pihaknya masih akan melakukan pengecekan data sebelum menyimpulkan apakah fenomena hujan debu di Balikpapan telah menimbulkan dampak kesehatan yang signifikan.

"Apakah ada dampak di kesehatan lingkungan. Kalau ada, pasti kita tindak lanjuti. Tapi kalau belum ada, hanya terkait dengan cuaca saja," katanya.

Dalam merespons persoalan di Balikpapan ini, Dinkes Kaltim merefleksikan keberhasilan penanganan kasus kabut asap akibat kekeringan yang terjadi beberapa tahun silam. Kala itu, indikasi peningkatan kasus ISPA di salah satu kabupaten di Kaltim berhasil diendus secara cepat melalui sistem kewaspadaan dini yang dimiliki provinsi.

Melalui investigasi klinis yang komprehensif, tim medis saat itu berhasil mengidentifikasi bahwa gangguan pernapasan yang dialami warga murni disebabkan oleh paparan polusi asap, bukan akibat faktor infeksi bakteri.

"Kemudian dicek apakah memang terkait dengan asap atau kena bakteri. Ternyata memang hanya asap saja, maka kita berikan masker agar tidak terisap, sehingga bisa mengurangi prevensi dari kasus ISPA," ungkap Jaya.

Pendekatan serupa akan diterapkan apabila ditemukan indikasi gangguan kesehatan akibat fenomena debu di Balikpapan. Menurut Jaya, koordinasi lintas instansi juga akan dilakukan untuk memastikan langkah penanganan berjalan tepat sasaran.

"Yang jelas koordinasi kita lakukan," tegasnya.

Saat ini Dinkes Kaltim masih mengandalkan pemantauan rutin terhadap tren penyakit ISPA yang dilakukan setiap pekan sebagai bagian dari sistem kewaspadaan dini kesehatan masyarakat.

"Yang barangkali kita buatkan pedoman A3 (Aman Diri, Aman Lingkungan, dan Aman Pasien)," pungkasnya. 

Fenomena hujan debu cokelat sebelumnya menyelimuti sejumlah kawasan di Balikpapan pada Selasa (23/6/2026). Warga di Balikpapan Tengah dan Balikpapan Utara melaporkan partikel debu halus menempel di rumah, kendaraan, jalan, hingga tanaman. Sejumlah warga juga mengeluhkan tenggorokan gatal dan khawatir terhadap dampak kesehatan, terutama bagi anak-anak.

PT Kilang Pertamina Balikpapan mengakui menerima laporan tersebut dan menyebut indikasi awal debu kemungkinan berasal dari aktivitas operasi awal kilang baru yang sedang memasuki tahap pengaliran bahan baku. Namun perusahaan menyatakan hasil identifikasi sementara menunjukkan karakteristik material tersebut masih dalam kategori aman dan tidak menunjukkan risiko kesehatan yang signifikan.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan menyatakan akan melakukan penelusuran dan verifikasi lebih lanjut terkait sumber serta karakteristik debu yang dikeluhkan masyarakat.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :