Di tengah meluasnya kebakaran hutan dan lahan, Kalimantan Selatan mencatat 36.196 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hanya dalam lima pekan terakhir, dengan Banjarmasin, Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar menjadi penyumbang terbesar.
EKSPOSKALTIM, Banjarmasin – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Selatan mencatat lonjakan laporan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah berlangsungnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) hingga 22 Agustus 2026, jumlah laporan ISPA pada minggu ke-28 hingga minggu ke-32 mencapai 36.196 kasus.
Kepala Dinkes Kalsel Diauddin menjelaskan tren laporan ISPA terus meningkat dari pekan ke pekan.
Pada minggu ke-28 tercatat 5.319 kasus, kemudian naik menjadi 6.460 kasus pada minggu ke-29. Jumlah tersebut kembali meningkat menjadi 7.617 kasus pada minggu ke-30, lalu 8.342 kasus pada minggu ke-31, dan mencapai 8.458 kasus pada minggu ke-32.
“Total laporan selama periode minggu ke-28 sampai minggu ke-32 mencapai 36.196 kasus,” ujar Diauddin.
Meski mencatat angka tertinggi pada minggu ke-32, Dinkes menilai laju kenaikan mulai melambat. Selisih antara minggu ke-31 dan minggu ke-32 hanya bertambah 116 kasus, lebih rendah dibandingkan lonjakan pada pekan-pekan sebelumnya.
“Kita melihat laju peningkatan mulai melambat. Tetapi ini bukan berarti kewaspadaan diturunkan. Pemantauan dan surveilans tetap kami lakukan secara berkelanjutan bersama Dinas Kesehatan kabupaten/kota,” katanya.
Tiga Daerah Sumbang Hampir Separuh Kasus
Pada minggu ke-32, Kota Banjarmasin menjadi wilayah dengan laporan ISPA tertinggi sebanyak 1.603 kasus.
Posisi berikutnya ditempati Kota Banjarbaru dengan 1.142 kasus dan Kabupaten Banjar sebanyak 1.135 kasus.
Sementara Kabupaten Tanah Laut mencatat 751 kasus dan Kabupaten Kotabaru 538 kasus.
Jika digabungkan, tiga daerah teratas yakni Banjarmasin, Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar menyumbang sekitar 45,9 persen dari seluruh laporan ISPA pada minggu ke-32.
Dinkes Kalsel juga terus memantau perkembangan kasus di daerah lain, termasuk Barito Kuala, Hulu Sungai Utara, Tapin, dan Hulu Sungai Tengah untuk melihat pola penyebaran ISPA secara menyeluruh.
Namun Diauddin mengingatkan bahwa data laporan tidak bisa digunakan secara sederhana untuk membandingkan tingkat risiko antarwilayah.
Menurutnya, jumlah penduduk, tingkat kunjungan ke fasilitas kesehatan, hingga kualitas pelaporan dapat memengaruhi tingginya angka kasus yang tercatat.
“Jumlah laporan harus dilihat dengan konteks masing-masing daerah. Jumlah penduduk, kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan, serta kelengkapan dan ketepatan pelaporan bisa berbeda antarwilayah,” tuturnya.
Dia juga menegaskan peningkatan laporan ISPA belum dapat langsung dikaitkan seluruhnya dengan karhutla ataupun penurunan kualitas udara.
“Dinas Kesehatan masih mencermati keterkaitan data kesehatan dengan kondisi kualitas udara, cuaca, dan berbagai faktor lainnya. Kita tidak boleh langsung menyimpulkan satu penyebab, tetapi harus berdasarkan data dan perkembangan di lapangan,” ujar Diauddin.
Sebagai catatan, lonjakan kasus ISPA ini terjadi pada periode yang sama ketika Kalimantan Selatan menghadapi ribuan titik panas dan peningkatan kejadian karhutla di sejumlah kabupaten/kota, sehingga kondisi kesehatan masyarakat menjadi salah satu aspek yang kini mendapat perhatian serius pemerintah daerah.



