EKSPOSKALTIM, Samarinda– Persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda bukan lagi semata soal seberapa cepat api dipadamkan, melainkan seberapa lama Samarinda mampu bertahan ketika sumber air terus menyusut dan hujan belum merata.
Di tengah kemarau panjang yang membuat lahan semakin kering, hujan yang turun di sejumlah wilayah Samarinda memang membawa sedikit pengaruh. Namun, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, Suwarso, menilai hujan ringan yang hanya terjadi di beberapa titik belakangan ini belum cukup untuk mengubah situasi secara signifikan.
“Pasti ada bawa dampak, cuma tergantung besar kecilnya dan daerah titik hujan itu di daerah pemukiman atau di daerah rawan kebakar,” ujar Suwarso (26/8).
Karena itu, Suwarso mulai melihat operasi modifikasi cuaca sebagai salah satu opsi yang lebih strategis untuk menghadapi kondisi saat ini. Menurutnya, intervensi terhadap cuaca tidak hanya berfungsi untuk membasahi kawasan yang rawan terbakar, tetapi juga dapat membantu mengembalikan ketersediaan air.
Bahkan, menurutnya, operasi modifikasi cuaca memiliki keunggulan karena dapat menyentuh beberapa persoalan sekaligus.
“Kalau secara intensif dilakukan untuk rekayasa hujan ini entah dari IKN atau dari mana itu pasti berdampak,” katanya.
Dampaknya pun, kata Suwarso, tidak hanya dirasakan pada kawasan kebakaran. Area pertanian juga bisa teraliri, hingga debit sungai pun turut bertambah.
Kondisi tersebut menjadi penting jika dikaitkan dengan kebakaran lahan di kawasan Pelita 8 yang ditinjau langsung Wali Kota Samarinda Andi Harun pada Selasa (25/8). Saat itu, sekitar 7 hektare lahan diperkirakan terbakar. Pemerintah kota bahkan berkoordinasi dengan Polresta Samarinda untuk mendalami kemungkinan adanya unsur kesengajaan.
“Kita koordinasi juga dengan Kapolresta beserta tim kalau kemungkinan ada unsur kesengajaan. Dan kita memperingatkan kepada warga untuk juga aktif melaporkan jika ada hal-hal yang mencurigakan,” ujar Andi Harun.
Namun, di lokasi tersebut persoalan yang langsung dihadapi petugas bukan hanya sumber api. Air untuk pemadaman justru diakui Andi Harun turut menjadi kendala.
“Memang kendalanya sebenarnya di sumber air. Kita punya sungai kecil koneksi langsung dengan Mahakam tapi airnya juga surut,” kata Andi Harun.
Karena itu, BPBD kini tidak hanya mendorong kesiapan personel pemadam, tetapi juga meminta seluruh sumber air yang masih tersedia dipetakan dan dimanfaatkan.
Suwarso mengatakan, Wali Kota Samarinda telah meminta seluruh pemangku kepentingan dan OPD yang berkaitan dengan dampak kekeringan melakukan persiapan sejak dini.
Persiapan tersebut tidak berhenti pada identifikasi wilayah terdampak. Masing-masing perangkat daerah diminta menentukan posisi berdasarkan kondisi di lapangan, apakah masih normal, masuk tahap waspada, atau sudah siaga.
“Tanpa perintah semua OPD sudah mempersiapkan diri mulai dari identifikasi kemudian sampai kepada positioning-nya apakah di normal, waspada, siaga,” ujarnya.
Andi Harun juga meminta setiap kebijakan penanganan berbasis data dan analisis. Sehingga anggaran yang akan dikucurkan dapat dipertanggungjawabkan.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah ketersediaan sumber air. BPBD diminta kembali menganalisis sumber air yang dapat digunakan, mulai dari void hingga sumur.
“Yang bisa digunakan untuk sumber air minum, penyiraman termasuk untuk hewan dll untuk diinventarisasi,” ujarnya.
Inventarisasi itu kemudian dibebankan hingga tingkat kecamatan dan kelurahan. Camat dan lurah diminta melakukan patroli secara sinergis di wilayah masing-masing.
Jika ditemukan titik api, laporan harus segera diteruskan kepada satuan tugas agar penanganan tidak menunggu api membesar.
“Termasuk kalau ada titik api segera dilaporkan ke satgas supaya cepat
penanganannya,” pungkas Suwarso.


