EKSPOSKALTIM, Bontang- Bekantan atau bisa disebut Monyet Belanda, merupakan satwa endemik yang populasinya banyak terdapat di Pulau Kalimantan, termasuk di wilayah Kota Bontang. Banyaknya hutan mangrove di Kota Bontang, menjadi salah satu faktor populasi Bekantan di Kota Bontang terbilang banyak.
Hal ini disampaikan Balai Taman Nasional Kutai (TNK) Kota Bontang melalui Petugas Bidang Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), Deden, saat dikonfirmasi melalui via telpon genggam (HP), Jumat (2/9) pagi.
“Bekantan adalah jenis kera yang cocok hidup di hutan mangrove, karena makanan yang bekantan sukai adalah tunas tumbuhan mangrove serta buahnya,” terang Deden.
Kendati demikian, belum diketahui pasti jumlah keseluruhan Bekantan yang ada di Kota Bontang. Karena, pihak balai TNK sendiri belum pernah melakukan servey secara langsung, untuk mengetahui secara akurat jumlah populasi Bekantan ini.
“Jumlah populasi Bekantan belum dapat kita pastikan, karena belum pernah kita data. Yang jelas, Bekantan banyak di Bontang, dan juga tetap masuk dalam pengawasan kami. Kita juga tetap arahkan mereka di area konservasi hutan mangrove, agar masuk dalam pantauan kami,” jelasnya.
Dijelaskannya, Bekantan memiliki ciri khas yang unik, kera dengan bulu berwarna emas kecoklatan ini memiliki hidung yang besar dan memanjang. Makanan yang paling disukai adalah daun-daunan khusunya tumbuhan mangrove, serta buah-buahan. Tapi sayang populasinya mulai menyusut.
Ciri dari Bekantan ini sangat unik, tak heran jika banyak orang yang berniat untuk memeliharanya. Akibatnya, populasi Bekantan saat ini terus menurun. Tercatat, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) mulai tahun 1978, berjumlah 250 ribu ekor di seluruh Pulau Kalimantan.
“25 ribu ekor diantaranya berada di kawasan konservasi. Sedangkan penelitian yang dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan tahun 2013 juga mengatakan jumlah Bekantan saat ini menurun, dengan jumlah 4.500 ekor saja di Kalimantan Selatan,” bebernya.
Menurutnya, banyak faktor yang menyebabkan terus menurunnya populasi Bekantan di Kalimantan. Seperti halnya pada saat musim kemarau silam yang sering terjadi kebakaran hutan secara luas, selain faktor alam, juga disebabkan oleh faktor manusia itu sendiri.
“Faktornya banyak, mulai dari alam, bahkan manusia. Yang saat ini maraknya alih fungsi lahan, perdagangan satwa liar, atau bahkan kebakaran hutan yang disebabkan oleh manusia karena alasan tertentu. Tak heran jumlahnya terus menurun. Jangan sampai anak cucu kita tidak tau apa itu Bekantan,” tutupnya.

