Ancaman karhutla belum benar-benar mereda di Kalimantan. BMKG memprakirakan udara kabur masih menyelimuti Samarinda pada Sabtu (5/9), sementara asap atau kabut berpotensi terjadi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
EKSPOSKALTIM, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kualitas udara di sebagian wilayah Kalimantan masih terdampak fenomena udara kabur dan asap pada Sabtu (5/9). Itu, seiring masih berlangsungnya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah.
Prakirawan BMKG Henokhvita menyebut Samarinda menjadi salah satu kota yang berpotensi mengalami udara kabur. Kondisi serupa juga diprakirakan terjadi di Pontianak dan Palangka Raya.
Sementara itu, BMKG memprediksi potensi asap atau kabut terjadi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
“Udara kabur berpotensi terjadi di Pontianak, Palangkaraya dan Samarinda, sedangkan asap atau kabut berpotensi terjadi di Banjarmasin,” ujar Henokhvita dalam siaran prakiraan cuaca BMKG.
Meski demikian, peluang pembentukan awan hujan masih terbuka di Kalimantan. BMKG mencatat adanya daerah perlambatan angin atau konvergensi yang membentang di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Kondisi tersebut dapat memicu pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah dan membantu menekan penyebaran titik api di area tertentu.
Selain itu, hujan ringan juga diprakirakan berpotensi terjadi di Tanjung Selor, Kalimantan Utara.
BMKG menjelaskan daerah konvergensi merupakan wilayah pertemuan massa udara yang dapat meningkatkan pembentukan awan hujan. Fenomena ini saat ini terpantau tidak hanya di Kalimantan, tetapi juga di sejumlah wilayah Sumatra, Sulawesi, Maluku hingga Papua.
Masyarakat di Kaltim dan Kalsel diimbau tetap memantau perkembangan informasi cuaca dan kualitas udara, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.
Di tengah musim kemarau dan meningkatnya aktivitas karhutla di Kalimantan, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk menghindari pembakaran lahan yang berpotensi memperburuk kualitas udara dan memicu munculnya titik api baru.


