EKSPOSKALTIM - Pembukaan UUD 1945 tertuang jelas bahwa salah satu tujuan Negara adalah mencerdaskan anak bangksa. Artinya, tugas ini adalah tugas kita bersama baik itu pemerintah maupun masyarakat harus punya peranan penting untuk mencerdaskan anak bangsa.
“Mencerdaskan” merupakan kata kerja yang artinya melakukan segala daya dan upaya agar peserta didik menjadi cerdas. Tugas ini sebenarnya merupakan tugas yang begitu berat. Bagaimana tidak, di era sekarang ini tugas “mencerdaskan” itu diamanatkan kepada guru yang ketika mencubit siswanya karena suatu pelanggaran langsung dipidanakan, yang ketika ingin mengajarkan etika dan sopan santun kepada siswa, siswa dan orang tuanya datang memukuli gurunya.
Hal ini tentunya sudah terlalu sering terjadi dalam dunia pendidikan kita. Sampai-sampai terdapat tulisan yang menyinggung orang tua siswa bahwa “yang tidak ingin anaknya dihukum silahkan buat sekolah sendiri, ajar sendiri, atur sendiri, buat ijazah sendiri”.
Saya teringat ketika ayah dan paman saya bercerita tentang kehidupan sekolah mereka yang dulu. Mereka mengatakan begitu hormat kepada guru, sampai-sampai lewat didepannya saja haram hukumnya bagi siswa pada masa itu. Tidak ada siswa yang berani melawan gurunya, tidak ada yang berani mengeluarkan bajunya, tidak ada yang berani bolos sekolah, bawa rokok atau miras dan sebagainya.
Baiklah kita di era yang sudah modern, tapi apakah kita harus mengorbankan sebuah pelajaran etika dan sopan santun hanya untuk menyambut era modern ini?. Guru zaman sekarang begitu terkekang dengan berbagai aturan ketat mengenai perlindungan anak dan HAM. Dan jika sudah begini, saya yakin akan banyak guru yang mulai masa bodoh dengan sikap siswa. Yang penting mereka sudah mengajar di kelas, maka selesailah tugas mereka. Masa bodoh dengan sikap mereka, toh meskipun diberi tahu tidak akan mendengar, dan kalau kita hukum mereka akan melawan sambil membawa orang tua mereka. Sehingga guru berpikir “bodoh amat” dengan sikap mereka.
Kita saat ini begitu terlena dengan aroma pendidikan yang asyik, menyenangkan, seru dan sebagainya. Kita begitu asyik merancang berbagai jenis model dan metode pembelajaran yang begini dan begitu. Akan tetapi saya sangat yakin dan sebagian besar guru akan setuju dengan saya bahwa semua itu tidak akan mempan ketika kita terapkan di kelas sekarang ini. Hanya mereka yang mengajar di kelas-kelas unggulan yang enak untuk menerapan model dan metode pembelajaran tersebut. Mengapa? Karena siswanya sudah enak untuk diatur, pintar, beretika, mau belajar. Sedangkan sebagian besar guru di daerah masih menggunakan metode klasik yakni ceramah. Mengapa? Karena ketika kami menyuruh siswa untuk membentuk kelompok untuk sebuah metode kooperatif learning, sebagian besar mereka ada yang mulai tidur di meja dan ada yang pura-pura tidak mendengar. Lalu? Kami tegur, tapi tidak mau mendengar. Terus apa lagi? Hukum?
Ada yang bilang boleh menghukum, tapi dengan yang mendidik, contoh dengan menyuruh mereka mengerjakan tugas, membersihkan sekolah, dan sebagainya. Iya, kalau mereka mau melaksanakannya. Bagaimana kalau tidak mau? Itukan haknya dia sebagai manusia.
Bukankah kita telah memahami bahwa didalam teori pendidikan kita mengenal prinsip stimulus-respon. Dimana konsep ini berkaitan dengan reward dan punishment. Saya pikir sebagian guru akan setuju bahwa ada anak yang tidak akan mau berubah kalau memang tidak dikerasi, dan ada yang hanya dengan perintah dia akan langsung bergerak. Seandainya semua siswa adalah anak yang mudah diperintah maka akan sangat mudah menjalankan model-model atau metode pembelajaran yang kita inginkan.
Pemerintah harus memberikan payung hukum yang jelas mengenai masalah ini. Guru menjadi korban dalam sebuah sistem yang menuntut mereka harus mampu mencerdaskan peserta didik dari segi emosional, intelektual, da psikomotorik. Tapi dengan perlindungan yang rapuh. Sama halnya ketika sebuah tim militer ditugaskan ke medan perang dengan bekal satu buah pisau untuk menghadapi musuh yang menggunakan senjata mesin otomatis.
Cukuplah berbagai foto-foto yang beredar di media massa dan media social itu menjadi saksi bisu betapa guru sangat direndahkan oleh siswanya sendiri. Sebuah foto di media social baru-baru ini menunjukkan seorang siswa duduk di samping gurunya yang sedang mengajar dengan mengangkat kaki ke atas meja sambil mengacungkan jarinya. Guru tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. #saveguru.
Penulis : Edil Wijaya Nur, S. Pd. (Guru Program SM-3T di Pedalaman Kalimantan)

