EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Hari ini, Selasa (21/2/2017) menjadi titik balik Pemkot Balikpapan setelah didemo oleh sekelompok penggiat lingkungan karena melegalkan aktifitas sirkus lumba baru baru ini. Pihak Pemkot merespon positif tuntutan Aliansi Penyelamatan Satwa Balikpapan dengan mengeluarkan surat pernyataan komitmen Balikpapan bebas eksploitasi satwa, siang tadi.
Begini bunyi secarik surat yang tertandatangani Walikota Balikpapan, 31 Januari 2017. “Saya Rizal Effendi, Walikota Balikpapan, menyatakan komitmen untuk Balikpapan yang bebas eksploitasi satwa. Saya mengajak warga kota untuk turut serta mendukung semua kegiatan positif yang mengarah pada pencapaian komitmen Balikpapan bebas eksploitasi satwa. Mari kita bergandengan tangan”
Husein Suwarno, Koordinator Aliansi Penyelamatan Satwa saat dihubungi EKSPOSKaltim via seluler menjelaskan, komitmen oleh Pemkot ini merupakan hasil kerja keras bersama pihaknya sejak awal tahun.
“Dari awal kami tegas menolak terhadap segala bentuk eksploitasi satwa. Dan alhamdulillah mendapat respon positif dari Pemkot Balikpapan. Kami terima suratnya siang tadi,” kata Husein, warga kelurahan Manggar Sari Balikpapan Timur ini.
"Perjuangan ini masih terus berlanjut, diskusi siang tadi dengan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH), bahwa arah kebijakan Pemkot adalah menyusun perwali soal komitmen ini," kata Husein.
Husein turut mengajak segenap masyarakat untuk mengawal komitmen bersama ini, agar dapat terealisasi demi Balikpapan Bebas Eksploitasi Satwa. "Untuk formalnya aturan yang mengikat seperti perwali atau perda pasti butuh proses dan tahapan panjang," ucapnya.
Diketahui komunitas yang tergabung dalam aliansi penyelamatan satwa sebanyak 19 komunitas, yakni Forum Peduli Teluk Balikpapan, RASI, Jaringan Advokat Lingkungan Hidup, Pokja Pesisir dan Nelayan, Mahasiswa Pencinta Alam Carmine Delta Adventurers Comunity STT Migas, Himpa Politeknik, Mapala Uniba, Stekpala SMKN 1, Landing, HMI komisariat Balikpapan, GMKI, GMNI, PMI, Green Generation, Earth Hour, Jakarta Animal Aid Network, Animals Frieds Jogja, Kaoem Telapak Bogor dan Balikpapan Save Bekantan (BSB).
Sekedar diketahui sebelum adanya pergerakan ini, keprihatinan sejumlah elemen organisasi tersebut muncul karena “pentas” lumba-lumba sempat berlangsung di Balikpapan.
Berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, bahwa saat ini draft akhir revisi Perdirjen No.16/IV/Set/2014 Tentang Pedoman Peragaan Lumba-Lumba, setelah melalui pembahasan yang panjang sudah siap dan menunggu pengesahan pemerintah. Yang mana dalam draft akhir, peragaan lumba-lumba telah dihapuskan. "Kita sudah berkirim surat ke KLHK (Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) untuk segera di revisi tentang peragaan satwa di lindungi" jelas Husein,
“Balikpapan kota kaya keanekaragaman hayati. Lumba-lumba hidup bebas alami di kawasan perairan Teluk Balikpapan. Pertunjukan sirkus ini tidak mendidik bagi warga kota. Sepengetahuan kami penangkaran lumba-lumba itu tidak etis. Di dalam fasilitas rekreasi (peragaan), lumba-lumba ini akan dipaksakan untuk tinggal di kawasan yang sempit dan terkungkung. Mereka akan stres,” jelas Husain.

