PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Sekelumit Cerita Dayak Bahau: Ritual Anak Angkat dan Gunung dalam Ladang yang Mulai Hilang

Home Berita Sekelumit Cerita Dayak Ba ...

Sekelumit Cerita Dayak Bahau: Ritual Anak Angkat dan Gunung dalam Ladang yang Mulai Hilang
Tarian Hudoq erat kaitannya dengan upacara adat suku Dayak Bahau yang dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dalam mengatasi hama perusak padi.

EKSPOSKALTIM, Mahulu

Anyaq Lujah terus mengunyah daun sirih dengan selingan buah pinang. Bibir dari istri Kepala Adat Kampung Ujoh Bilang Benidiktus Bith Unyang itu kian memerah.

Sebelum waktu memasuki tengah malam, perempuan yang dipanggil Nene itu bersiap melakukan prosesi pengangkatan anak. Tak lama berselang, perempuan 71 tahun itu masuk ke sebuah kamar di sebuah rumah panggung bertingkat yang berada di tepi sungai Mahakam.

Keluar dari kamar, jemari Nene yang dipenuhi tato adat suku Dayak Bahau memegang sebuah nampan putih yang berisi nasi, beras, manik-manik, dan Mandau, senjata tajam khas suku Dayak. Barang-barang itu merupakan syarat guna menjalankan ritual adat pengangkatan seorang anak.

Cukup sederhana, namun sarat akan makna dan budaya tradisi leluhur Dayak Bahau, kata Nene. Seisi rumah kepala adat menjadi hening. Raut wajah Keke, sapaan kepala adat pun berubah drastis menjadi serius. Tak tampak lagi senyum ramah dari raut wajahnya. Sebab, prosesi ritual adat mengangkat anak dalam adat istiadat Dayak Bahau akan segera dilangsungkan.

Beras putih lalu dihamburkan ke segala penjuru ruangan. Hal itu dilakukan guna menyampaikan pesan ke Yang Maha Kuasa sebagai pertanda ritual akan dilakukan. Sebelum itu, calon anak diminta meminang atau mengunyah sirih beserta buah pinang. Lalu, Mandau diangkat ke bagian atas kepala oleh Keke.

Mandau di atas kepala itu sebagai simbol pelindung bagi anggota baru dalam bagian rumah tangga adat di Dayak Bahau. Barulah usai diturunkan, calon anak diharuskan menggigit dan menginjak Mandau dengan telapak kaki. Sebagai tradisi, hal itu dilakukan sebagai bentuk ujian dan mengukur tekad sebelum menjadi bagian dari keluarga.

Mungkin, prosesi menggigit Mandau saat ini sudah sangat familiar dan cukup melekat sebagai identitas masyarakat Dayak Bahau pada umumnya. Tak peduli seseorang yang akan diangkat merupakan pejabat besar atau hanya masyarakat biasa. Ritual mengigit Mandau harus dilakukan untuk menjadi bagian dalam rumah tangga suku Dayak.

“Jika bisa dibengkokkan Mandau itu, gigit saja hingga bengkok, tapi kalau kuat,” canda Lahai, anak kedua kepala adat.

Dalam rumah panggung bertingkat nan sederhana, kepala adat mempunyai keturunan 4 orang anak. Namun, jika ditanya jumlah cucu dan cicitnya bisa mencapai angka puluhan. Belum lagi jumlah anak angkatnya. Hari-hari rumah panggung berdasar ulin itu ramai dihiasi anak cucu Keke.

Mandau sendiri identik sebagai simbol kebulatan tekad dan keberanian seseorang. Selain Sumpit, sehari-hari Mandau digunakan sebagai alat utama berburu babi bagi masyarakat suku Dayak di hutan. 

Saat prosesi adat berjalan, syair mantra dan doa dalam bahasa Busang yang berarti “semoga Tuhan selalu menyertai dia” terucap dari mulut Keke. Ia juga tengah asik nyirih serupa Nene. Bibirnya pun tampak memerah, namun suara yang keluar dari mulutnya cukup jelas untuk dicerna. Bahasa Indonesia Keke sendiri cukup fasih. Tidak seperti kebanyakan orang tua di kalangan masyarakat Dayak.

Mengigit besi atau Mandau, lanjut Keke, digunakan sebagai pengukur lemah dan kerasnya tekad seseorang. Dalam menjalani kehidupan sosial di masyarakat, menyandang status sebagai warga Dayak tidaklah mudah. Banyak adat istiadat yang tak boleh dilanggar. Dan sebagai bagian dari pengangkatan anak, ujung dari pelaksanaan prosesi ini ialah pemberian gelang manik. Gelang menandakan ikatan kekeluargaan. Sementara, dua batu manik berarti orang tersebut merupakan anak angkat dalam suatu rumah tangga suku Dayak Bahau.


Nene mengikatkan gelang pada tangan Jenau yang baru saja diangkat anak Keke dan Nene.

Kata Keke, tidak sembarang orang  dapat diangkat menjadi bagian baru dalam keluarganya. “Tergantung dari niat dan tujuan seseorang itu untuk datang berkunjung ke sini,” jelas Keke. Masyarakat Bahau masih memegang teguh setiap nilai serta prinsip kehidupan mereka sesuai tradisi dan budaya yang telah diturunkan oleh leluhur.

“Jalan ke mana saja di sepanjang dunia ini akan keras seperti besi. Tapi kita tak boleh terjajah atau terpengaruh dengan prinsip milik orang lain, kita harus bertahan dengan keyakinan diri kita sendiri,” lanjut Keke.

Singkat cerita, mengenai penetrasi budaya hidup modern yang perlahan masuk, Keke tidak sepenuhnya menolak. Dia hanya berpesan agar setiap insan memegang hukum adat Dayak Bahau yang tertulis maupun yang hanya tersirat.

“Semua aturan yang ada tidak boleh dilanggar, dalam hukum adat (Dayak) tidak ada kata maaf,” tegas Keke.

Soal aturan adat sendiri, saat ini juga sudah banyak mengalami perubahan selaras arah perkembangan zaman. Kata Keke, kebanyakan tekanan datang dari pemerintah yang meminta agar sejumlah aturan yang merugikan dan kurang relevan pada saat ini untuk dihapuskan.

“Kalau kita mau berangkat cari ikan pukat jala ke perahu bawah lalu ada burung gagak yang lewat di atas kepala,  masyarakat banyak yang tidak mau pergi. Karena itu pertanda buruk. Nah, aturan seperti itu sudah dihapus, karena yang merugikan,” jelas Keke.  

Lain lagi jika tengah berpergian ke ladang guna menanam padi. Dulu kebanyakan petani enggan melanjutkan menanam jika menemui binatang kaki seribu, sarang burung pipit, ataupun laba-laba yang dianggap merupakan sebuah pertanda buruk.

“Kalau seperti itu terus diikuti, tidak panen-panen kita. Sekarang kita lebih menyatukan aturan adat dengan aturan agama,” jelasnya.

Agama Katolik menjadi kepercayaan dominan yang dianut masyarakat Dayak Bahau. Sementara tradisi unik memanjangkan kuping di Ujoh Bilang ataupun tato kian menipis. Tidak lebih dari 10 orang. Sementara untuk tato masih lebih mudah dijumpai, umumnya pada perempuan Dayak yang berusia lebih dari setengah abad.

“Masih ada di sini, tapi kebanyakan itu merupakan kerabat yang datang dari Long Pahangai atau Long Tuyoq, ” jelas Keke. 

Kata Keke, warga asli Ujoh Bilang adalah masyarakat tradisional sub suku Dayak Bahau yakni Umaq Tuan, Batoq Palaq, dan Long Gelat. Sedangkan berbagai suku Dayak lain, Penihing Aoheng, Kenyah, ataupun Modang dan Laham merupakan pendatang dari hilir-hulu ibu kota Mahakam Ulu.

Tradisi kesenian utama yang tersisa di Ujoh Bilang sendiri ialah menugal padi atau menanam benih padi. Itu bagian dari mengolah hasil ladang. Mulai membuka ladang, menanam, hingga memanen padi setiap detailnya wajib melalui ritual adat dan didahului oleh keturunan bangsawan suku Dayak.

“Mulai dari membuka ladang, membersihkan rumput hingga memasuki padi mulai menguning wajib dilakukan ritual adat,” katanya. 

Hanya setahun sekali festival Hudoq Pekayang dilakukan, yakni usai memanen padi atau pada medio September-Oktober. Hudoq dipercaya sebagai titisan dewa yang membawa damai kesejahteraan ke penduduk bumi. Para pelakon Hudoq melakukan tarian-tarian menggunakan topeng menyerupai burung Enggang dengan balutan jubah hasil kerajinan tangan dari daun pinang dan pisang yang masih hijau.

Hanya setahun sekali dilaksanakan, sebab, padi yang ditanam di Ujoh Bilang bukan jenis padi biasa serupa padi sawah. 150 kaleng bibit jenis padi gunung ditanam. Harapannya, 1 kaleng yang ditanam bisa menjadi 100 kaleng. Namun biasa karena kemarau melanda banyak padi yang mati.

“Istilahnya tidak pulang bibit,” lanjut Keke.

Walau kerap gagal panen, kata Keke, tidak ada istilah kelaparan di Ujoh Bilang. Produk hutan berupa gaharu bisa diandalkan. Ada juga warga yang beralih profesi dengan menjala ikan, mencari sarang walet, berdagang, atau menambang emas guna mencari pengharapan lain saat gagal panen.

Mayoritas penduduk bertani. Tanah Mahulu sendiri memiliki kontur tanah bergelombang dengan kemiringan hingga 60 derajat. Bentang alam berupa bebukitan dan gunung dimanfaatkan untuk menanam padi. Beda dengan sawah, umumnya padi juga ditanam sekitar areal halaman warga. Paling besar warga bisa membuka ladang 1-4 hektar di sini.

“Untuk padi kami memang tidak berdagang, namun hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri,” terang lelaki 74 tahun itu.

Meski usianya terbilang uzur, di Ujoh Bilang terdapat hampir 3 ribu Kepala Keluarga (KK). Peran Keke sangatlah vital sebagai penengah dalam setiap perselisihan antar warga maupun rumah tangga. Sebelum awak media ini bertemu, ia baru saja menengahi kasus perceraian yang tak kunjung selesai oleh salah satu warga.

“Di sini jika salah satu pasangan ada yang selingkuh hukumannya bisa denda yang tidak ringan,” jelasnya.

Lanjut Keke, satu KK paling besar bisa menanam padi hingga 2 hektar. “Dulu bahkan bisa sampai 20 hektar. Makanya sampai ada istilah banyak gunung dalam ladang. Sekarang karena lahan terbatas, kita hanya bisa manfaatkan sisa yang ada,” sambung Keke.

Saat ini, Keke mengatakan, banyak gunung dalam ladang yang sudah habis ditebas. “Selain itu kami juga kekurangan bibit padi yang berkualitas unggul,” sambung Lejiu, anak pertama.

Ekspansi perambah hutan, dan perusahaan yang mengantongi izin atas hak penguasaan hutan di Ujoh Bilang masih marak terjadi. Meskipun demikian untuk sekedar pembukaan lahan apalagi memasuki areal hutan tidaklah boleh sembarangan.

Hanya berbekal mengantongi izin saja, kata Keke, banyak perusahaan saat ini yang melanggar aturan adat.
“Masuk ke rumah orang tanpa izin adalah pelanggaran luar biasa,” jelas Keke.

Kata dia potensi Sumber Daya Alam (SDA) di Mahulu saat ini cukup melimpah. Ia pun bersyukur karena belum ada penambangan atau aktivitas industri masuk yang dikhawatirkan merusak lingkungan. Sebab, kata Keke, saat ini warga sudah bersyukur dapat bertani dengan lahan yang tersisa. Sebagaimana umumnya masyarakat Dayak di Ujoh Bilang, sebagian masih menerapkan tradisi ladang berpindah.

Di setiap kampung di hulu Mahakam diketahui memiliki seorang kepala adat dan petinggi adat. Tugasnya mengurus segala urusan dalam tatanan sosial dan rumah tangga di masyarakat, mulai dari urusan perceraian, sengketa batas tanah, dan beragam perselisihan lainnya.

“Setiap Dayak mempunyai batas sesuai teritori adat masing-masing,” jelas Keke.


(dari kiri) Kepala Adat Kampung Ujoh Bilang Benidiktus Bith Unyang (Keke), Wartawan Ekspos Kaltim Fariz Fadhillah (Jenau) dan Anyaq Lujah (Nene).


Editor : Benny Oktaryanto
Tags : \\

Apa Reaksi Anda ?

40%0%20%0%0%20%20%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :