EKSPOSKALTIM, Samarinda - Rencana Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) membangun jalur kereta api khusus batu bara dianggap tidak berpengaruh pada ekonomi rakyat.
Menurut Pakar Ekonomi dan Lingkungan Kaltim sekaligus Dosen di Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Mulawarman Samarinda, Bernaulus Saragih menilai dengan dibangunnya rel kereta api khusus batu bara tersebut hanya akan memicu eksploitasi terhadap alam semakin menjadi-jadi.
Seperti fungsi dan tujuan awal rel kereta api khusus batu bara ini dibangun, adalah langkah akselerasi dari percepatan untuk menguras habis batu bara di Kaltim.
Karena dinilai, kereta api adalah sarana pengangkut yang paling efisien bagi para pelaku eksploitasi batu bara.
"Angkutan ini murah, cepat dan akan membuat putaran ekspor batu bara semakin lancar. Artinya, memacu perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan produksi, " kata laki-laki berdarah Batak, Minggu (16/7).
Peningkatan produksi, kata Bernaulus, sama dengan memperluas areal penambangan. Akibatnya, lahan pertanian maupun perkebunan kian tergerus. Petani akan terancam dampak tambang.
"Beda jika kereta ini mengangkut hasil perkebunan, paling tidak menumbuhkan ekonomi petani," ujarnya.
Memaksimalkan ekploitasi batu bara di pulau Kalimantan, diakuinya jelas akan meningkatkan ekonomi daerah seiring menjamurnya investasi dalam maupun luar negeri.
Seperti misi dan visi dari program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang dicanangkan Kementerian Bidang Ekonomi.
"Salah satunya adalah pembangunan rel kereta api ini yang investornya berasal dari perusahaan Russian Railways . Artinya, MP3EI adalah program yang memacu pertumbuhan ekonomi di daerah sekaligus menggerus alam dan memberikan dampak negatif bagi lingkungan," katanya.
Selama ini, lanjut dia, industri pertambangan tidak memberikan kontribusi yang signifikan bagi pementasan persoalan pengangguran di Kaltim.
Bahkan tidak memberikan profit yang menjanjikan bagi daerah, karena Kaltim cenderung mendapat bagi hasil kecil. Selain itu, masih didominasi dengan dampak negatif yang ditimbulkan bagi lingkungan.
Ditambah dengan adanya pembangunan rel kereta api ini, dikhawatirkan akan menimbulkan permasalahan kronis yang baru kelak.
Selain ancaman bagi lingkungan nantinya, proyek rel kereta api juga dikhawatirkan akan menuai masalah dari proses pembangunannya.
"Ada potensi persoalan yang terjadi di tol, kemudian di Blok Mahakam terulang di proyek rel kereta api ini,” tandasnya.
Ia menilai ini adalah kerja berat bagi gubernur. Lantaran diminta untuk memberikan garansi, bahwa pembangunan jalur kereta api khusus angkutan batu bara tak memberikan dampak negatif bagi masyarakat maupun lingkungan.
“Lebih baik gubernur memberikan garansi, jaminan, dan memastikan dampak negatif yang akan timbul, dari pada hanya membeberkan keuntungan bagi Kaltim yang belum pasti dari investasi Rusia tersebut,” tutupnya.

