EKSPOSKALTIM, Mahulu- Kebersihan lingkungan di ibu kota Kabupaten Mahulu, Ujoh Bilang, seperti tak terawat. Sampah-sampah berhamburan di darat hingga sungai.
Seperti yang terlihat di kawasan Balai Pertemuan Umum (BPU), Kamis (3/8). Sampah plastik, sisa-sisa makanan menumpuk hingga mengeluarkan aroma tak sedap.
Menurut sumber yang dihimpun media ini, sampah-sampah di Ujoh Bilang sudah tak terurus sejak awal 2017. Sebelum-sebelumnya, petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Mahulu rutin mengangkut sampah-sampah di Ujoh Bilang.
“Entah apa sebabnya, kami (warga) tidak tahu persis. Tiba-tiba saja, sampah-sampah di sini tidak diangkut lagi,” kata warga yang tak ingin namanya disebutkan, beberapa waktu lalu.
Akibatnya, sebagian warga memilih membakar sampah-sampah dari rumah tangga. Bahkan, juga membuang sampah ke sungai Mahakam. Padahal, air sungai pula lah yang digunakan untuk keperluan sehari-hari.
Kejadian ini membuat warga marah. Beberapa bak sampah dihancurkan warga Mei lalu. Tujuannya, agar pemerintah melihat bahwa tidak ada lagi gunanya bak sampah karena sampah menumpuk tanpa diangkut.
“Sekitar jam 2 malam saya mendengar suara ribut-ribut di depan rumah. Pagi-pagi saya lihat bak sampah sudah rata. Ya, wajar sajalah kalau warga marah. Siapa coba yang terima kalau “rumahnya” kotor,” sambungnya.
Hal ini membuat Kepala Desa (Kades) Ujoh Bilang Kerawing Lawing juga ikut marah. Pasalnya, bak-bak sampah yang ada di Ujoh Bilang dibuat menggunakan anggaran desa.
Dia menjelaskan, bak-bak sampah di Ujoh Bilang dibuat sebelum Mahulu dimekarkan sebagai kabupaten. Menurutnya, kebersihan lingkungan lebih baik saat Mahulu belum dimekarkan. Sebab, saat itu anggaran kebersihan langsung masuk ke kas desa. Dengan begitu, kebersihan langsung dikelola desa.
“Kalau begini caranya, lebih baik, biar kami yang kelola lagi,” jelas perempuan berperawakan gemuk itu.
Lebih lanjut, Kerawing menuturkan, saat itu, satu bak sampah dibuat dengan biaya sekitar Rp 15 juta. Fungsinya, jelas, agar kebersihan di Ujoh Bilang bisa ditanggulangi. Namun, nyatanya sekarang, sampah-sampah berserakan di jalan-jalan umum.
Mengetahui bak sampah telah dihancurkan, Kerawing bakal menutut ganti rugi. “Yang saya tahu ada lima bak sampah telah dihancurkan. Saya enggak terima. Saya bakal minta ganti rugi kepada yang mengahancurkan,” tuturnya dengan nada tinggi.
Meski begitu, dia menawarkan solusi pemerintah membentuk tim khusus untuk menanggulangi masalah kebersihan.
“Dengan begitu, sampah-sampah pasti bisa terurus. Karena bisa lebih fokus soal kebersihan,” tandasnya.
Kabid Pengelolaan Sampah dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Mahulu Bill Deng mengatakan, minimnya anggaran membuat pihaknya tidak bisa berbuat banyak.
Petugas kebersihan di Mahulu, katanya, tidak dibayar alias bekerja secara sukarela. Selain itu, DLH belum memiliki kendaraan pengangkut sampah sendiri. Bahkan, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hingga kini belum ada di Mahulu.
“Kami sudah pernah mengusulkan ke Pemkab (Pemerintah Mahulu, Red) soal kendaraan pengangkut sampah dan lahan untuk dijadikan TPA, tapi hingga kini belum ada,” katanya.
Oleh karena itu, lanjut dia, wajar jika warga membakar hingga membuang sampahnya ke sungai. Bahkan, hingga menghancurkan bak-bak sampah yang ada. “Saya memang menunggu hingga berita ini diangkat,” lanjutnya.
Namun, dia menuturkan, pihaknya akan mengusahkan kembali agar usulan pengadaan kendaraan, TPA dan membayar petugas kebersihan bisa terlaksana di 2018.
“Kami akan terus usahakan. Mudah-mudahan tahun depan masalah lingkungan sudah bisa teratasi,” pungkasnya.

