Penguasaan bahasa dan literasi dinilai menjadi kunci lahirnya karya kreatif yang bernilai ekonomi, bahkan di tengah dominasi teknologi kecerdasan buatan.
EKSPOSKALTIM - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar menegaskan bahwa bahasa dan literasi merupakan faktor mendasar dalam mengungkapkan gagasan sekaligus melahirkan karya kreatif yang relevan di era digital.
“Bahasa menjadi fondasi dari hubungan manusia dengan manusia lain, manusia dengan diri sendiri, dan di era sekarang, manusia dengan mesin,” kata Irene saat menjadi pembicara dalam acara Selebrasi Narabahasa (Senara) 2026 di Omah Martimbang, Jakarta, baru tadi, dikutip dari antara.
Menurut Irene, kualitas bahasa sangat menentukan hasil interaksi, termasuk ketika manusia memberi instruksi kepada kecerdasan buatan (AI).
“Semakin baik cara kita bertutur saat memberi instruksi kepada AI maupun manusia, semakin dekat hasilnya dengan tujuan yang kita inginkan,” ujarnya.
Ia menyebut bahasa sebagai alat utama untuk menyampaikan isi pikiran dan perasaan, sekaligus titik awal lahirnya karya tulis yang kemudian berkembang menjadi kekayaan intelektual. Dari sanalah, berbagai produk kreatif dapat tumbuh dan memberi nilai tambah ekonomi.
Irene mencontohkan, banyak produk kebahasaan yang berhasil dikembangkan lintas medium. “Banyak buku, seperti karya Ika Natassa dan Marchella FP, berangkat dari tulisan, kemudian dikembangkan menjadi naskah dan diadaptasi ke film. Basisnya tetap bahasa dan cerita, tetapi dikemas ulang agar bisa dinikmati audiens yang lebih luas,” jelasnya.
Orisinalitas di tengah AI
Dalam forum yang sama, sastrawan Nenden Lilis Aisyah menyoroti pentingnya orisinalitas karya di tengah kemudahan produksi konten berbasis teknologi kecerdasan buatan.
Menurut Nenden, pengalaman pribadi menjadi sumber paling kuat dalam proses kreatif. “Pengalaman yang dihayati secara mendalam akan melahirkan bahasa yang lebih personal, sehingga karya menjadi benar-benar orisinal,” katanya.
Ia menilai, teknologi dapat membantu proses produksi, tetapi tidak bisa menggantikan kedalaman pengalaman manusia yang menjadi roh sebuah karya.
Direktur Utama Narabahasa Ivan Lanin menegaskan bahwa Narabahasa sejak awal hadir tidak hanya untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, tetapi juga mengangkat martabat bahasa Indonesia agar setara dan berdaya di ruang publik maupun profesional.
Ia menyebut Narabahasa memiliki tiga misi utama: mengangkat marwah bahasa Indonesia, meningkatkan keterampilan berbahasa masyarakat, dan mendorong kebahagiaan.
“Banyak orang Indonesia memiliki gagasan yang baik, tetapi kesulitan mengekspresikannya secara utuh. Ketika kemampuan berbahasa meningkat, kepercayaan diri tumbuh, dan itu berpengaruh pada kualitas komunikasi sekaligus kebahagiaan,” ujar Ivan.
Melalui Senara 2026, Narabahasa menghadirkan ruang temu bagi komunitas, kreator, dan penerbit untuk merayakan serta mengembangkan karya berbasis bahasa dan literasi.
Acara ini diisi dengan bazar komunitas dan penerbit, gelar wicara, bincang komunitas, hiburan, serta lokakarya menulis cerita dan menjahit buku. Kegiatan tersebut menyasar pelajar, pendidik, komunitas, kreator konten, hingga masyarakat umum sebagai bagian dari upaya meningkatkan keterampilan berbahasa dan literasi nasional.

