EKSPOSKALTIM - Pakar Feng Shui Yulius Fang menjelaskan bahwa berbagai simbol seperti tulisan Fu, buah jeruk, hingga patung Fu Lu Shou yang dipajang saat Imlek bukan sekadar dekorasi, melainkan representasi harapan akan keberuntungan yang harus diiringi kerja keras dan doa.
Pakar Feng Shui Yulius Fang menyampaikan bahwa sejumlah hiasan dan benda simbol keberuntungan lazim dipajang di rumah keluarga keturunan Tionghoa saat perayaan Tahun Baru Imlek.
"Jadi, semua orang, tanpa kecuali, mau dari muda sampai tua, mau laki maupun wanita, kita butuh satu keberuntungan dalam hidup kita. Makanya Feng Shui Astrologi, bazi, dan kawan-kawan ini berusaha keras untuk menghadirkan keberuntungan di dalam diri kita," katanya dikutip dari antara.
Ia menjelaskan tulisan Fu, aksara dalam bahasa Tionghoa yang berarti beruntung atau hoki, kerap ditempel di rumah dengan harapan pemiliknya memperoleh keberuntungan sepanjang tahun. Simbol itu tidak hanya muncul saat Imlek, tetapi juga dijadikan dekorasi tetap oleh sebagian keluarga agar usaha dan kehidupan mereka terus mendatangkan hasil baik.
Menurut Yulius, keberuntungan tidak datang begitu saja. Ia menekankan pentingnya mengiringi doa dengan kerja keras agar harapan tersebut memiliki pijakan nyata.
Di kalangan masyarakat Tionghoa, ada pula kepercayaan bahwa memasang tulisan Fu secara terbalik melambangkan keberuntungan yang “tertumpah” ke dalam rumah untuk kemudian ditampung oleh penghuninya.
Selain tulisan Fu, pajangan seperti koin emas kuno atau kotak harta di atas meja dipandang sebagai simbol kemakmuran dan rezeki melimpah. Buah-buahan juga memuat makna tersendiri.
"Apel itu melambangkan Ping an, artinya aman, sentosa, selamat, damai, harmoni, seperti itu. Jadi, kedua buah ini biasanya juga sering di display baik sincia ataupun tidak sincia," ia menjelaskan.
Jeruk, menurutnya, juga identik dengan kemakmuran dan keberuntungan sehingga hampir selalu hadir dalam perayaan Imlek.
Hiasan lain yang lazim dipajang adalah patung Fu Lu Shou, tiga figur dewa yang masing-masing melambangkan keberuntungan (Fu), karier dan kedudukan (Lu), serta umur panjang (Shou). Selain itu, sosok Caishen atau Dewa Harta juga sering ditempatkan di rumah sebagai simbol kekayaan.
Untuk “mengundang” Dewa Harta, sebagian keluarga membuka pintu dan jendela serta menyalakan seluruh lampu rumah pada malam pergantian tahun atau sincia sebagai simbol menyambut energi dan rezeki baru.
Yulius menambahkan tidak semua kepercayaan yang berkembang di masyarakat berkaitan langsung dengan tradisi Tionghoa. Misalnya, anggapan bahwa hujan saat sincia pasti membawa keberuntungan atau bahwa menaruh benda tajam di rumah selama Imlek akan mendatangkan kesialan. Ia menilai sebagian keyakinan tersebut merupakan tafsir yang berkembang di luar akar tradisi aslinya.

