Kemarau mulai menggerus cadangan air baku Samarinda. Tinggi muka air Bendungan Lempake kini hanya berjarak 50 sentimeter dari level kritis yang akan memaksa pengurangan pengambilan air untuk PDAM dan irigasi hingga 50 persen.
EKSPOSKALTIM, Samarinda – Cadangan air baku Samarinda mulai memasuki zona waspada. Tinggi muka air (TMA) Bendungan Lempake kini berada di 7,00 meter di atas permukaan laut (MDPL), sudah turun dari kondisi normal 7,20 MDPL.
Jika hujan tak kunjung turun dalam 10 hari ke depan, muka air diperkirakan kembali merosot.
Kondisi tersebut belum sampai mengganggu pengambilan air untuk kebutuhan Perumdam maupun irigasi. Namun, Bendungan Lempake kini hanya berjarak 0,50 meter dari level kritis, yakni 6,50 MDPL. Pada titik itu, pengambilan air baku dan irigasi harus dikurangi hingga separuh.
Kepala Unit Pengelola Bendungan II BWS Kalimantan IV Samarinda, Hayu Wardana, mengatakan posisi air saat ini masih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat dan pertanian.
“Untuk 10 hari ke depan tanpa hujan kemungkinan akan turun elevasi, namun masih mencukupi untuk kebutuhan air irigasi dan PDAM,” ujar Hayu (28/8).
Namun, pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan ruang aman Bendungan Lempake semakin menyempit. Sebab, kondisi normal bendungan berada pada 7,20 MDPL, sementara posisi saat ini sudah berada di bawah angka tersebut.
“TMA sekarang berada di bawah batas normal, karena TMA normalnya 7,20 MDPL,” katanya.
Ancaman paling serius muncul ketika TMA menyentuh 6,50 MDPL. BWS memastikan pengambilan air tidak dapat dipertahankan seperti kondisi normal apabila muka air terus turun.
“Apabila elevasi sudah mencapai 6,50, pengambilan air irigasi dan air baku harus dikurangi sebesar 50
persen,” jelas Hayu.
Artinya, apabila kemarau berlanjut dan muka air terus menyusut, kebutuhan air baku masyarakat akan berhadapan langsung dengan keterbatasan sumber air di waduk.
Situasi ini membuat BWS mulai memperkuat koordinasi dengan PDAM. Pembahasan telah dilakukan di kawasan intake Waduk Lempake, terutama menyangkut kondisi pengambilan air dan batas elevasi minimal yang masih memungkinkan pompa digunakan.
BWS bahkan membuka ruang untuk membantu penanganan pada kolam intake PDAM jika kondisi terus memburuk.
“Kami juga siap membantu PDAM untuk perluasan dan pengerukan kolam intake PDAM,” katanya.
Lebih lanjut, Hayu menjelaskan bahwa di tengah muka air yang terus tertekan kemarau, persoalan kapasitas waduk juga tidak terlepas dari sedimentasi. BWS telah melakukan pengerukan sejak Juli di bagian tengah waduk dan pekerjaan tersebut direncanakan berlangsung hingga akhir tahun.
“Namun, pekerjaan tersebut saat ini terkendala lantaran alat yang digunakan sedang dalam perbaikan,” tutupnya.
Selain pengerukan sedimentasi, BWS juga melakukan pembersihan gulma air pada area waduk seluas 12 hektare. Hayu mengatakan bahwa hal tersebut merupakan upaya mempertahankan fungsi waduk ketika ketersediaan air mulai tertekan.


