Jakarta, EKSPOSKALTIM – Sebanyak 11 warga negara Indonesia (WNI) asal Jawa Timur dan Kalimantan Timur telah berhasil dievakuasi dari Iran dan tiba di Tanah Air melalui Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin (24/6) sore. Salah satunya adalah Sultan Fatoni (43), warga asal Samarinda, Kalimantan Timur.
“Alhamdulillah baru saja, kurang lebih satu jam yang lalu, kita menyambut saudara-saudara kita, warga negara Indonesia yang sudah berhasil kita evakuasi dari Teheran,” kata Dirjen Protokol dan Konsuler Kemlu RI, Andi Rahmianto, dikutip Kompas.com.
Andi menyebut evakuasi dilakukan atas arahan Presiden Prabowo Subianto, mengingat memburuknya situasi keamanan di Iran. Proses evakuasi dilakukan melalui jalur darat dari Teheran ke perbatasan Azerbaijan, lalu dilanjutkan penerbangan dari Baku ke Jakarta.
Evakuasi tak lepas dari tantangan. “Selain 11 orang yang tiba, sebenarnya sudah siap 29 orang lainnya. Namun karena gangguan pada penerbangan Qatar Airways dari Baku menuju Doha, mereka belum bisa melanjutkan ke Jakarta hari ini,” jelas Andi. Saat ini, 68 WNI lainnya masih berada di Baku menunggu jadwal penerbangan.
Enam Hari Perjalanan
Sultan Fatoni mengaku perjalanan dari Iran ke Indonesia memakan waktu enam hari. Ia bersama istri dan anaknya sempat tinggal di Mashhad, timur Iran, lalu menempuh perjalanan darat sehari penuh ke Kedubes RI di Teheran. Setelah bermalam, ia bergabung dengan rombongan menuju Azerbaijan.
“Sudah dari Kamis perjalanan dari Iran. Jadi sudah enam hari, agak capek,” katanya. “Setelah kumpul semua, kami lanjut darat ke Azerbaijan dan akhirnya sampai di sini. Alhamdulillah bisa pulang dengan selamat,” ujar Sultan.
Mereka sebelumnya tinggal di Kota Mashhad, Iran Timur, selama tiga setengah tahun. “Kami sudah dari Kamis perjalanan dari Iran. Jadi sudah enam hari, agak capek,” katanya saat ditemui di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
Rumah Fatoni hanya berjarak sekitar 10 menit dari Bandara Mashhad yang baru saja diserang drone. “Katanya yang diserang kemarin pakai drone itu bandara kota Mashhad, sekitar 10 menit dari tempat tinggal saya,” ujarnya.
Meski tidak terdengar ledakan bom di wilayahnya, ia mengaku beberapa kali melihat drone terbang di atas kota. Beruntung, sistem pertahanan Iran berhasil menembak jatuh drone tersebut sebelum menghantam sasaran.
Fatoni juga menuturkan bahwa selama masa darurat, akses informasi sangat terbatas. “Pemerintah setempat menasionalisasi internet. Jadi hanya situs atau aplikasi lokal yang bisa diakses,” ungkapnya.
Mahasiswa Mustofa International University, Ali Murtado (20), juga menjadi salah satu dari 11 WNI yang tiba di Tanah Air. Ia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah atas evakuasi ini.
“Terutama untuk pemerintah Indonesia, terima kasih. Kita sekarang merasa aman dan tiba di Indonesia secara selamat,” ungkap Ali, dikutip Detik.com.
Ali sempat menginap di KBRI Teheran saat situasi memanas. “Kondisi di sana cukup mencekam karena ada serangan dari Israel beberapa saat dan berhenti beberapa saat dan kadang-kadang lanjut,” katanya.
Serangan itu disebut tidak menyentuh tanah karena berhasil dihalau drone Iran. Ali menyebut tempat tinggalnya di Qom aman dari serangan, tapi warga Teheran banyak yang mengungsi keluar kota.
Ali juga menceritakan bagaimana akses informasi terputus. “Karena di sana sempat diputus internet. Kita nggak bisa dapat berita masuk dari Iran. Saya baru bisa informasi dengan keluarga setelah berada di Azerbaijan,” pungkasnya.

