EKSPOSKALTIM, Bontang – Malang nasib Muhammad Alzam Baharuddin, bocah kelas 2 SD yang tinggal di Kelurahan Guntung, Kecamatan Bontang Utara. Maksud hati ingin merasakan suasana pemandian di kolam air milik salah seorang warga, justru hal tersebut berujung petaka.
Peristiwa itu terjadi saat korban bersama ke 6 temannya mandi bersama di kolam milik warga bernama Ajis, pada Kamis (8/9) kemarin. Diduga tak bisa berenang, korban pun tenggelam hingga nyawanya tak bisa tertolong lagi.
Ayah korban, Baharuddin, mengisahkan sesaat sebelum peristiwa itu berlangsung, korban yang saat itu pulang dari sekolah sempat meminta uang kepada orang tuanya untuk membeli pentol. Selepas itu, korban pun pergi ke kolam dimana tempat ia tenggelam.
"Minta uang sama Ibunya, setelah diberi uang, korban bilang taruh di atas meja aja dulu, soalnya dia mau pergi main-main dulu. Ibunya bilang, iya, tapi mainnya jangan jauh-jauh," ujar Baharuddin sembari menahan isak tangisnya, saat ditemui dikediamannya, jalan Tari Enggang, Jum'at (9/9).
Korban bersama temannya sempat diminta pulang oleh pemilik kolam. Pemilik kolam saat itu mengira korban dan temannya sudah pulang, namun ternyata ke tujuh anak ini malah pindah berenang ke kolam lainnya.
“Pemilik kolam ini dikiranya ikut pulang juga, tapi anak-anak ini pindah ke kolam yang lain. Teman korban bercerita pada saya, bahwa mereka mandi lagi. Anak (korban) ini karena tidak tahu berenang, akhirnya berpegang pada tanah dipinggir kolam, tapi pegangannya ini terlepas," ujarnya.
Melihat korban tenggelam, beberapa temannya bergegas meminta pertolongan kepada warga setempat. Tak lama kemudian, warga pun datang memberi pertolongan.
Namun warga sempat kesulitan mencari korban di dasar kolam, karena kolam ini cukup dalam hingga mencapai ketinggian 3 meter.
"Yang menolong tadi ngos-ngosan juga karena agak lama dicarinya. Pas mau istirahat untuk melakukan pencarian korban, tiba-tiba menyentuh tangan korban dan warga ini kembali menyelam untuk menyelamatkan korban," tuturnya.
Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit PKT untuk diberi pertolongan intensif, karena dilihat korban masih sempat bergerak dan memungkinkan untuk bisa diselamatkan.
"Sempat di bawa ke Rumah Sakit PKT, tapi saya posisinya ditempat kerja, cuman ibunya yang di rumah. Setelah di bawa ke rumah sakit, saya kurang tahu seperti apa pertolongan pertama yang diberikan pihak rumah sakit karena saya belum sampai kesana," ungkapnya.
Korban dinyatakan meninggal dunia di RS PKT sekira pukul 18.00 Wita. Sang Ibu pun tak kuasa menahan tangis atas kepergian putranya ini, yang menurutnya begitu cepat dipanggil oleh Sang Maha Kuasa.
"Pas saya datang ke rumah sakit, saya langsung menundukkan kepala dan mengikhlaskannya, karena saya liat tidak ada nyawa lagi. Ibunya sempat tidak percaya, akhirnya saya tanya dokternya untuk membuktikan kepada ibunya agar bisa percaya bahwa anaknya betul-betul sudah pergi," tandasnya.

