PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Gorengan Saat Buka Puasa: Nikmat Sesaat, Risiko ke Banyak Organ

Home Berita Gorengan Saat Buka Puasa: ...

Kebiasaan “balas lapar” dengan gorengan saat berbuka bisa membebani hati, jantung, hingga ginjal.


Gorengan Saat Buka Puasa: Nikmat Sesaat, Risiko ke Banyak Organ
Aneka takjil di salah satu kios di kawasan Jalan Sabang Jakarta Pusat, Kamis (19/2/2026). (ANTARA/Pamela Sakina)

EKSPOSKALTIM - Dietisien dari RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung, Yesi Herawati, mengingatkan konsumsi gorengan saat berbuka puasa tidak sekadar soal kalori, tetapi berdampak langsung pada kerja organ tubuh yang baru “aktif kembali” setelah seharian berpuasa.

“Makan terlalu banyak gorengan pada saat berbuka atau sahur dapat memberatkan kerja organ tubuh,” kata Yesi.

Menurutnya, asupan lemak yang tinggi dari gorengan menjadi titik awal berbagai gangguan. Organ pertama yang terdampak adalah hati karena kelebihan lemak akan disimpan di sana.

Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat berkembang dari perlemakan hati menjadi peradangan, sirosis, bahkan kanker hati.

Selain itu, lemak berlebih juga berdampak pada sistem kardiovaskular. “Hal ini dapat meningkatkan kolesterol dalam darah sehingga terjadi penyumbatan berisiko terjadi aterosklerosis dan penyakit jantung koroner,” ujarnya.

Dampak tidak berhenti di situ. Pankreas dan empedu ikut terbebani, yang dalam jangka panjang dapat memicu resistensi insulin dan meningkatkan risiko diabetes. Ginjal pun dipaksa bekerja lebih keras akibat metabolisme lemak berlebih, yang berpotensi mengarah pada penyakit ginjal kronik.

Bahkan, penumpukan lemak di area perut dapat menekan diafragma dan mengganggu fungsi paru-paru.
“Efek lainnya terjadi pada sistem reproduksi yang dapat menyebabkan penurunan kesuburan karena ketidakseimbangan hormon,” kata Yesi.

Dari sisi pencernaan, gorengan juga bukan pilihan ideal saat berbuka. Setelah sekitar 12 jam berpuasa, sistem cerna justru dipaksa langsung mengolah makanan tinggi lemak yang sulit dicerna.

https://eksposkaltim.com/berita-16317-sahur-kebanyakan-karbohidrat-ahli-gizi-ingatkan-risiko-ke-pankreas-dan-ginjal.html

Yesi menegaskan, risiko akan semakin besar pada individu dengan kelebihan berat badan atau obesitas.
“Apabila terjadi terus menerus dan tidak diimbangi dengan asupan serat yang cukup dan aktivitas fisik yang memadai, maka terjadi penumpukan lemak di dalam tubuh yang sangat berisiko terjadi obesitas, penyakit jantung, stroke, perlemakan hati, diabetes melitus, kanker dan penyakit lainnya,” ujarnya.

Meski demikian, konsumsi gorengan masih bisa ditoleransi dalam batas tertentu. Untuk orang dengan kondisi sehat dan status gizi normal, batas aman maksimal dua potong per hari, dengan catatan tidak disertai makanan lain yang digoreng atau bersantan.

Sementara bagi yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, konsumsi sebaiknya dibatasi hanya sekali dalam seminggu.

Yesi juga mengingatkan pentingnya penggunaan minyak baru, bukan minyak jelantah, serta menyeimbangkan pola makan dengan serat dan aktivitas fisik.

Sebagai alternatif, ia menyarankan berbuka dengan air putih terlebih dahulu, lalu memilih makanan yang lebih ringan dan mudah dicerna.

“Takjil yang mengandung elektrolit seperti kurma, air kelapa, buah-buahan atau salad buah lebih baik untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang selama puasa,” katanya. (ant)


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :

Komentar Facebook

komentar