Inflasi Kalimantan Timur melandai pada Januari 2026 seiring turunnya harga pangan dan normalisasi tarif transportasi pascalibur akhir tahun. Namun, Bank Indonesia mencatat tekanan biaya hidup masih membayangi, terutama dari kenaikan harga emas dan penyesuaian tarif layanan dasar.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Bank Indonesia mencatat inflasi Kalimantan Timur pada Januari 2026 sebesar 0,04 persen secara bulanan (month to month/mtm), jauh lebih rendah dibanding Desember 2025 yang mencapai 0,71 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim, Jajang Hermawan, mengatakan meredanya inflasi bulanan ditopang penurunan harga kelompok bahan makanan dan transportasi, menyusul panen raya di sejumlah sentra produksi serta normalisasi tarif angkutan udara setelah tingginya permintaan pada periode Natal dan Tahun Baru.
“Tekanan inflasi berhasil ditahan oleh penurunan harga pangan dan transportasi,” ujar Jajang di Samarinda, Selasa (3/2), dikutip media ini dari antara.
Meski demikian, inflasi tahunan Kaltim masih tercatat sebesar 3,76 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada di level 3,55 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa beban biaya hidup masyarakat belum sepenuhnya mereda.
https://eksposkaltim.com/berita-16186-indef-soal-harga-pangan-masalahnya-bukan-musiman.html
Bank Indonesia mencatat inflasi Januari terutama disumbang oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, sejalan dengan tren kenaikan harga emas yang berlanjut di awal tahun. Rata-rata harga emas pada Januari 2026 mencapai Rp2.860.000 per gram atau meningkat sekitar 12 persen dibandingkan Desember 2025.
Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 3,17 persen (mtm) dengan andil 0,23 persen terhadap inflasi bulanan. Tekanan harga juga datang dari kelompok pakaian dan alas kaki serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, yang dipengaruhi meningkatnya permintaan dan penyesuaian tarif air minum.
Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kaltim terus memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui penguatan pasokan, distribusi, dan keterjangkauan harga. Sepanjang Januari 2026, TPID Kaltim tercatat menggelar 21 kali gerakan pangan murah dan operasi pasar di berbagai kabupaten/kota.
Ke depan, Bank Indonesia menilai pengendalian inflasi tetap perlu diwaspadai, terutama untuk menahan tekanan biaya hidup masyarakat di tengah fluktuasi harga komoditas dan penyesuaian tarif layanan dasar.

