Samarinda, EKSPOSKALTIM – Kalimantan Timur terus mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), dengan fokus pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan biogas. Langkah ini menjadi bagian dari strategi transisi menuju energi bersih di daerah.
Analis Kebijakan EBT Dinas ESDM Kaltim, Syamsuddin, menyebutkan bahwa dari berbagai potensi yang dikaji, mulai dari tenaga air, angin, hingga pasang surut sungai, energi surya dinilai paling realistis dan layak dikembangkan secara masif di Benua Etam.
“Setelah melalui kajian, kami melihat energi surya adalah yang paling bisa diandalkan,” ujarnya, Jumat (8/8).
Program PLTS kini menjadi andalan untuk melistriki wilayah terpencil yang sulit terhubung jaringan listrik PLN. Menurut Syamsuddin, pembangunannya tak hanya menjawab kebutuhan listrik warga, tapi juga membantu meningkatkan porsi energi bersih di Kaltim.
Selain tenaga surya, pemerintah daerah juga mengembangkan biogas dari kotoran sapi. Program ini dijalankan bersama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, menyasar kelompok tani yang memiliki ternak.
“Biogas menjadi solusi energi alternatif di desa. Warga tak perlu lagi bergantung pada LPG karena bisa menghasilkan gas sendiri dari limbah ternak,” jelasnya.
Model pengelolaan biogas pun berkembang. Jika dulu instalasi dibangun untuk tiap rumah, kini pemerintah mulai membangun fasilitas komunal berkapasitas besar yang bisa melayani belasan rumah dalam satu kelompok tani. Kunci keberhasilannya, kata Syamsuddin, adalah memastikan ternak dikandangkan agar limbahnya mudah dikumpulkan setiap hari.
Kepala Bidang EBT dan Konservasi Energi Dinas ESDM Kaltim, Elly Luchritia Nova, menambahkan, hingga saat ini PLTS sudah terpasang di 72 desa terpencil di empat kabupaten. Sementara pemanfaatan biogas yang dimulai sejak 2012 hingga 2024 telah menghasilkan 575 unit instalasi untuk rumah tangga peternak.

