PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Masjid Cheng Hoo di Kaltim, Jejak Akulturasi Tionghoa dan Islam

Home Berita Masjid Cheng Hoo Di Kalti ...

Akulturasi budaya Tionghoa dan Islam tercermin pada keberadaan dua Masjid Cheng Hoo di Kalimantan Timur yang menjadi tujuan singgah musafir sekaligus simbol perjumpaan tradisi di Benua Etam. 


Masjid Cheng Hoo di Kaltim, Jejak Akulturasi Tionghoa dan Islam
Masjid Cheng Hoo di Desa Batuah, Provinsi Kalimantan Timur. Foto: Singgahkemasjid.blogspot.com

EKSPOSKALTIM, Samarinda - Keberadaan dua Masjid Cheng Hoo di Provinsi Kalimantan Timur, yakni di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda, menjadi bukti akulturasi budaya Tionghoa dengan nilai-nilai Islam yang berkembang di Benua Etam.

“Masjid ini selalu ramai dikunjungi, terutama saat musim mudik Lebaran,” kata Sekretaris Pengurus Masjid Muhammad Cheng Hoo, Nurdin Haddade di Kutai Kartanegara, dikutip media ini, Jumat (6/3).

Masjid pertama adalah Masjid Muhammad Cheng Hoo yang berada di Jalan Poros Samarinda–Balikpapan, Desa Batuah, Kabupaten Kutai Kartanegara. Lokasinya yang berada tepat di tepi jalan utama antarkota membuat tempat ibadah tersebut mudah dijangkau masyarakat maupun para pelancong yang melintas.

Bangunan yang didirikan pada 2006 oleh pengusaha keturunan Tionghoa Muslim, Yostomo, itu memiliki arsitektur khas menyerupai klenteng dengan dominasi warna merah serta atap yang menyerupai pagoda. Di bagian depan, berdiri gerbang megah dengan sentuhan arsitektur Tionghoa yang memperkuat identitas bangunan tersebut.

Menurut Nurdin, pengelola masjid juga menyiapkan berbagai fasilitas untuk melayani para musafir yang singgah, terutama saat arus mudik dan arus balik Lebaran.

“Kami memperhatikan kebutuhan musafir dengan menyediakan berbagai fasilitas memadai seperti area parkir kendaraan yang luas, toilet yang terjaga kebersihannya, hingga tempat istirahat gratis,” ujar Nurdin.

Ia menambahkan para pendatang dari luar daerah, misalnya dari Banjarmasin, kerap memanfaatkan fasilitas tersebut untuk beristirahat sejenak setelah perjalanan jauh.

https://eksposkaltim.com/berita/dari-kampung-maksiat-ke-pusat-ibadah-tertua-sejarah-masjid-shirathal-mustaqiem-samarinda--16344.html

“Para pendatang diberikan kebebasan untuk mandi atau memulihkan tenaga di area teras yang telah didesain senyaman mungkin,” katanya.

Meski keberadaan jalan tol Samarinda–Balikpapan belakangan mengurangi jumlah pelancong yang melintas di jalur lama, pengelola masjid tetap aktif menggelar berbagai kegiatan keagamaan selama bulan Ramadan, termasuk buka puasa bersama yang diselenggarakan secara swadaya oleh warga sekitar.

Pengelola hanya memberikan satu imbauan kepada para pengunjung, yakni larangan tidur di dalam ruang shalat utama demi menjaga kesucian dan ketertiban area ibadah.

Selain di Kutai Kartanegara, jejak akulturasi budaya serupa juga tampak pada Masjid Cheng Ho yang berada di Jalan Ruhui Rahayu 1, Kota Samarinda.

Masjid di ibu kota Kalimantan Timur tersebut menampilkan perpaduan unsur arsitektur Tionghoa dengan sentuhan budaya Arab yang mencerminkan simbol perdamaian antarbudaya.

Dominasi warna merah, hijau, dan kuning terlihat pada bagian luar bangunan, dilengkapi pintu masuk bergaya pagoda serta ukiran relief naga yang menjadi elemen artistik khas.

Keunikan lainnya tampak pada ornamen di bagian puncak pagoda masjid, di mana terdapat patung singa dari lilin yang dipadukan dengan lafaz Allah dalam huruf Arab.

Perpaduan unsur budaya itu menjadikan kedua masjid Cheng Hoo di Kalimantan Timur bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga simbol perjumpaan tradisi Tionghoa dengan nilai-nilai Islam yang berkembang di tengah masyarakat setempat. (ant)


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :