Di tengah pembangunan jalan tol dan infrastruktur pemerintahan, Ibu Kota Nusantara (IKN) menghadapi pekerjaan yang jauh lebih sunyi. Yakni menghidupkan kembali hutan endemik yang rusak, sekaligus memastikan satwa liar tetap memiliki ruang hidup di kawasan yang terus bertumbuh.
EKSPOSKALTIM, Penajam - Ibu Kota Nusantara (IKN) di sebagian wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim) merawat ruang alam bagi perlindungan satwa dan membangun kembali hutan endemik Kalimantan.
"IKN tetap memberikan ruang bagi perlindungan satwa liar," ujar Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Keamanan dan Keselamatan Publik Edgar Diponegoro, Jumat (20/2) ketika ditanya menyangkut pembangunan dan lingkungan IKN di Sepaku, Penajam Paser Utara.
Pernyataan itu mengemuka di tengah percepatan pembangunan infrastruktur, termasuk jalan tol yang membelah kawasan hutan. Otorita IKN menyebut tetap menyediakan jalur aman bagi pergerakan satwa liar melalui pembangunan jembatan koridor satwa di atas jalan tol.
"Bangunan Jembatan koridor bukti model pembangunan IKN memberikan perlindungan terhadap satwa,” katanya.
"Koridor satwa dibangun untuk menjamin keselamatan satwa liar yang melintas dan berhabitat di kawasan itu," tambah Edgar Diponegoro.
Koridor satwa berbentuk jalan yang disediakan agar satwa liar tetap dapat berpindah tempat tanpa terganggu dengan keberadaan Jalan Tol IKN. Infrastruktur ini dirancang untuk menjaga konektivitas habitat yang berpotensi terfragmentasi akibat pembangunan.
Komitmen Otorita IKN mewujudkan kota hutan di ibu kota baru Indonesia diwujudkan melalui kebijakan perlindungan satwa liar serta mengacu amanat undang-undang bahwa pembangunan kawasan tidak boleh lebih dari 25 persen, sementara sekitar 65 persen harus tetap berupa kawasan hutan.
Namun, menjaga tutupan hutan saja tidak cukup. Tantangan lebih besar terletak pada upaya memulihkan ekosistem yang telah terdegradasi selama bertahun-tahun.
"Membangun kembali hutan endemik Kalimantan dengan jenis tumbuhan dan hewan lokal, agar terbentuk iklim mikro," kata Direktur Pengembangan Pemanfaatan Kehutanan dan Sumber Daya Air Otorita IKN Onesimus Patiung.
Mengembalikan hutan tropis kepada kondisi asli sangat sulit, lanjut dia, karena banyak plasma nutfah (bahan genetik tumbuhan atau hewan) yang sudah hilang akibat penebangan liar, pembukaan lahan, dan pembakaran.
Upaya itu kini dijalankan melalui pembangunan pusat plasma nutfah dan museum untuk mendokumentasikan kekayaan hayati tersisa di Persemaian Mentawir, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara.
Kalimantan didominasi hutan tropis dengan ekosistem beragam dan khas. Tanaman endemik menyusun hutan di Kalimantan tidak sama dengan di tempat lain, serta memiliki hutan kerangas di kawasan pesisir dan tanah berpasir miskin unsur hara, demikian Onesimus Patiung.
Di tengah transformasi kawasan menjadi pusat pemerintahan baru, pekerjaan membangun kembali hutan endemik menjadi ujian konsistensi konsep kota hutan. Infrastruktur dapat dibangun dalam hitungan tahun, tetapi memulihkan ekosistem tropis memerlukan waktu jauh lebih panjang, serta keteguhan menjaga keseimbangan antara pembangunan dan alam.

