EKSPOSKALTIM, Bontang - Pulau Beras Basah tak lain merupakan salah satu ikon utama Kota Taman, julukan Bontang. Namun sudah sejak 2016 lalu, pemberitaan mengenai penutupan destinasi wisata pantai ini mencuat dan menyisakan tanda tanya.
Sebelum benar-hilang sebaiknya anda menyempatkan diri untuk mengunjungi pulau yang terletak di bagian selatan Kota Bontang ini.
Sekedar diketahui, Beras Basah menjadi salah satu alternatif objek wisata di Bontang yang saat ini masih minim. Juga, tak perlu lagi jauh-jauh ke Berau atau ke Balikpapan hanya untuk melihat pantai dengan hamparan pasir putih sejauh mata memandang.
Selain pantai, objek wisata sudah dikenal luas menjual pemandangan alam dan laut lepas yang tak kalah bersaing memberikan kesan nyaman bagi wisatawan. Pun suguhan manakala matahari terbit dan tenggelam yang terlihat jelas jika kita berdiri tepat pinggir pulau ini.
Sampai sekarang fasilitas seperti banana boat serta kegiatan berenang atau menyelam permukaan (snorkeling) juga masih tersedia.
Keberadaan destinasi wisata pantai ini letaknya juga tak terlalu jauh, dapat ditempuh hanya kisaran 15 menit dengan speed boat dari Pelabuhan Tanjung laut di Kecamatan Bontang Selatan.
Tak hanya masyarakat Bontang, banyak para wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang datang. Umumnya pada setiap hari, pengunjung bisa mencapai 50 orang. Jika hari libur, jumlahnya meningkat hingga 10 kali lipat.
Seperti Ahmad Maulana (24), mahasiswa asal salah satu perguruan tinggi di Samarinda yang memilih berekreasi di Beras Basah bersama empat orang rekannya.
Kata dia, tempat ini sangat unik dengan keindahan bawah lautnya yang sangat menawan. Cocok untuk wisata bersama kerabat atau keluarga.
“Fasilitas pulau ini juga lumayan ada mushola dan kamar mandi tapi harus sedikit mengeluarkan biaya air bersih untuk mandi, biaya transportasi kapal cukup terjangkau dengan harga sewa kapal yang pasti karena terorganisir dengan baik oleh masyarakat nelayan pelabuhan,” jelas dia.
Sebelumnya, pada pertengahan 2016 lalu, Walikota Bontang Neni Moerniaeni menyetujui permintaan PT Badak LNG untuk menutup lokasi wisata Pulau Beras Basah demi kepentingan jalur navigasi kilang refinery Pertamina.
Ini juga buntut kekecewaan dari orang nomor satu di Bontang tersebut karena melihat kondisi pulau Beras Basah yang tidak terawat. “Saya secara pribadi setuju saja pulau Beras Basah ditutup. Kalau kondisinya tidak terawat siapa yang mau mengunjungi,” begitu kata Neni kala itu.
Sarana dan prasarana penunjang, kata Neni juga tak optimal. Sampai saat ini pun belum ada kontribusi pendapatan dari lokasi wisata yang ramai di akhir pekan ini.
Meski begitu ia mengusulkan jika kedepannya Beras Basah akan menjadi objek wisata terbatas yang hanya diperuntukkan bagi wisatawan yang ingin menyelam.
Di lain sisi, Asosiasi Penyedia Jasa Transportasi Wisata Laut (APJTWL) Bontang mengatakan keberadaan Pulau Beras Basah penting untuk dipertahankan.
“Masa iya kita tak ingin anak cucu kita menikmati tempat ini,” ungkap Ketua APJTWL Bilhogen kepada Ekspos Kaltim, Senin (24/4) sore.
Dari pengalaman yang ada, kata Bilhogen, terkait pengelolaan objek wisata tak bisa hanya berharap pihak swasta saja. Pemerintah daerah harus turun tangan jika ingin meraup pendapatan tambahan dari sektor wisata.
Di Beras Basah sendiri, faktor alam kian menjadi penentu. Di beberapa titik pantai saat ini sudah mulai mengalami kerusakan akibat gelombang air laut. Contohnya jembatan yang terbuat dari kayu ulin. Penopang besi jembatan mulai mengalami kerusakan dan kropos karena tergerus ombak air laut.
Pun demikian dengan tembok pantai terbuat dari beton yang berfungsi menahan kerasnya gelombang laut juga mulai keropos. Dari pantauan media ini, pulau yang dulunya begitu luas kini hanya tersisa sekira satu hektar dikarenakan abrasi yang terus mengikis garis pantai.
Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipacu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai. Jika terus dipertahankan, Bilhogen menambahkan, bukan tak mungkin jika Beras Basah akan menjadi alternatif untuk menambal kekurangan Pendapatan Hasil Daerah (PAD) Bontang yang selama ini bergantung dari sektor gas dan batu bara.
Ia juga mengatakan saat ini banyak masyarakat sekitar yang menggantungkan hidup terhadap Beras Basah. “Sektor wisata seperti ini seharusnya dijaga dan dikelola pemerintah, sehingga seluruh kebijakan dan pajak daerah pun dapat ditarik sesuai peraturan yang ada,” tukasnya.

