EKSPOSKALTIM, Bontang - Keputusan Walikota Bontang Neni Moerniaeni yang setuju atas penutupan destinasi wisata pulau beras basah, kini menuai penolakan dari para pemilik jasa transportasi kapal kepulau beras basah.
Warga Tanjung Laut, Pihring, yang kesehariannya sebagai pengantar wisatawan ke Pulau Beras Basah, mengungkapkan ketidak setujuannya terkait rencana pemerintah untuk menutup pulau beras basah. Menurutnya, jika pulau tersebut ditutup akan mematikan penghasilan warga yang kerjanya sebagai penyedia jasa transportasi kapal.
“Kalau pulau beras basah ditutup kita mau dapat penghasilan darimana, sedangkan kebanyakan warga disini (Kelurahan Tanjung Laut. red) kerjanya hanya sebagai pengantar wisatawan, hanya mengandalkan penghasilan dari situ saja,” kata Pihring, saat ditemui di Pelabuhan Tanjung Laut, Bontang Selatan, Senin sore (27/062016) kemarin.
Pihring menambahkan, akses jalan untuk menuju beras basah tidak hanya melalui Tanjung Laut saja, tetapi bisa melalui Berebas dan Bontang Kuala. Menurutnya, jika pulau beras basah ini di tutup, berapa banyak masyarakat yang mati penghasilannya dari sektor transportasi kapal.
“Bayangkan saja jika pulau beras basah tutup, sedangkan disini saja sudah ada 60 kapal yang dimatikan penghasilannya, bagaimana dengan yang ditempat lain seperti Berebas dan Bontang Kuala yang pekerjaannya sama dengan saya, yang bergantung pada wisatawan beras basah, pasti akan banyak yang tidak setuju,” pungkasnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, jika penutupan pulau beras basah ini adalah keputusan terbaik yang dimiliki pemerintah, makan pemerintah juga harus memberikan solusi terbaik terhadap para warga, khususnya penyedia jasa transportasi kapal yang langsung merasakan dampak dari hal tersebut.
“Kalau memang beras basah ditutup, pemerintah mau tidak menggantikan penghasilan dari situ, sementara pendapatan kita hanya dari situ. Bisa nggak pemerintah penuhi kebutuhan kita. Ya, paling tidak 1 juta dalam seminggu, karena anak kitakan butuh makan dan biaya sekolah juga,” celetuknya.

